Rabu, 01 Oktober 2014

Membekas Adanya

Ibarat kata, ia pernah tertulis
Ibarat makna, ia benar adanya
Ibarat mimpi, ia pernah nyata
Ibarat jejak, ia menuntunmu

Membekas adanya

Aku, ibarat koma
Hanya menjeda
Sekian kata

Kamis, 25 September 2014

T E T A P

Tak pernah ingin aku  menjatuhkan sekian bayang-bayang tentang angan kita
Meski sulit meski keras akan ku layangkan terbang bersama udara
Kemana ia pergi berhembus, aku masih memeganginya dari sudut yang kusuka..


------------------------------------------------------------------------------


Aku bersama tawa
Meski juga bersama tangis
Tak pernah mampu mengubah sekian rasa
Dalam hati yang terus mengais 
Ia akan selalu nyata
Dan terus nyata kita kan raih..


------------------------------------------------------------------------------


Jarak memang bisa saja mengubah janji menjadi ingkar
Tapi ia tak pernah mampu mengubah rasa dalam asa
Yang kita genggam erat jauh sebelum hari ini
Sebelum jarak ada diantara cinta

Ia tak sekuat itu meregangkan sepuluh jari-jari dalam genggaman
Ia tak sekuat itu mengetuk sepasang hati
Ia hanya kadang menggelitik pada satu mata
Yang nantinya akan sirna terhempas udara

Percaya kasih ini kan selalu ada
Meski jarak yang akan kita terpa.. 
 



Selasa, 26 Agustus 2014

Izinkan aku..

Kita akan mampu berjalan
Meski dibawah reruntuhan
Kita akan mampu berjalan
Meski diatas karang
Kita akan mampu berjalan
Meski tenggelam dalam samudra

Kita bersama,
Bukan cuma berdua
Tapi juga bersama asa
Dalam setiap doa

Menentang rembulan dalam ribuan malam
Menentang panas di ribuan siang
Kita lengkapi bersama

Amarah, kecewa dan airmata
Kita mampu duduk bersama
Tetap dalam satu harapan

Menantang segala uji dunia
Menjadi kekuatan doa pada Tuhan

Izinkan aku menjadi nama yang tertulis dalam buku nikahmu
Izinkan aku menjadi nama yang terucap dalam ijab kabulmu
Izinkan aku menjadi bagian dari Ibadahmu pada Tuhan..

Jalan

Merangkai setiap sajak
Aku bersamamu
Memulai dari satu mili
Hingga ratusan centi
Aku didekatmu 
Disampingmu
Merekuh sekian cara pahamimu
Tidak hanya butuh waktu 
Tapi juga batu
Kerasnya kekukuhan
Kuatnya pertahanan
Bersama,
Bukan hanya berdua
Memegang aku dalam jalan pastimu
Dalam kemantapan hatimu
Meniti mili yang puluhan
Menjadi centi
Bergerak hingga ratusan
Jatuh,
Tapi diam
Jatuh,
Lantas terbangun
Jatuh,
Lantas berlari 
Tetap pada satu perjuangan
Pada satu lintas doa..

Biar Rindu Bicara

Aku merasa kini semua begitu sederhana
Cara memilikimu, cara menyayangimu dan cara memelukmu
Sesederhana aku percaya akan semua harapan dalam doa kita

Kesempatan tak lagi seperti dulu
Waktu demi waktu mampu ku melihatmu
Kini sesederhana jarak puluhan kilometer mengantara


Biarkan rindu bicara..
Tentang semua wujudnya
Tentang bagaimana rupanya


Biar kita bersama meraba
Detik demi detik rasa
Terpacu asa..

Senin, 25 Agustus 2014

Penghujung Syahdu

Rindu...
Pernahkah kau tau seberapa cepat kau menggebu?
Pernahkah kau rasa seberapa sulit kau ku sapu?

Dipucuk kalbu
Kau merangkul
Dari kata hingga asa
Merubah ketenangan rasa...

Lalu...
Sampailah aku
Di depan rindu,
Penghujung syahdu

Rindu bergelut
Berebut menyahut
Hingga demikian ribut
Menyulut membara dalam kalbu

Ku sampaikan
Sedemikian indahnya rindu
Ku melodikan syahdu...

Bergetar ia memakan ragu
ku nikmati bersama irama detak jantung

Wahai engkau sang pemilik hati penghujung syahdu
Ku nantikan pimpinan rindu melabuhkan satu
Segala yang pernah menjadi lagu...

Jumat, 22 Agustus 2014

Biarkan Kami Menggenggam Ibadah Kami

Terbit matahari hingga rembulan bersinar
Bersimpuh bersujud diatas sajadah
Terbalut ketenangan jiwa
Doa ku panjatkan


Terimakasih Tuhan,
Untuk segala doa-doa yang Kau dengar
Untuk segala doa-doa yang Kau kabulkan


Segala rizki dan ridho-Mu yang kami cari
Meski jarak terbentang kini
Tapi Kau janjikan masa depan untuk kami


Tuhan,
Kuatkan setiap diri
Kuatkan dua hati


Hingga saatnya nanti
Kami genggam Ibadah kami
Dalam satu ikatan suci



Sabtu, 09 Agustus 2014

Sudah!

Aku malas bermain dengan hati. Baru saja pasti nyatanya mau pergi. Hati ku malah sungkan ingin marah. Padahal nyatanya aku marah. Aku sudah malas mengajak hati ikut jatuh dalam pilihanku. Aku sudah malas menata hati yang terurai mengacak. Capek. Tiap kali berantakan, di tata tapi ga ada juga yang menghargai. Maunya sudah dengan satu hati. Yang mantap bermasadepan berdiri. Tak usah lagi menukar hati. Ini saja sudah lebih. Sudah seperti banyak awan, indah. Kesabaran lama-lama sudah menjadi 'nasi'. Enak dan biasa dimakan. Tak usah lagi bicara soal kesabaran. Pribadiku sudah tidak mengacu pada keegoisan. Sudahlah. Yang aku butuh hanya keseriusan, hargai hati yang ini. Yang sudah lama bercengkrama dengan hatimu. Yang sudah lama berlari bersama, berkeringat bahkan terjungkal bersama. Apalagi memang yang kau butuhkan? Cantik rupa? Rambut indah? Aku juga punya, dibalik kerudungku! Sudah kesal terus marah. Lapar jadinya. Jangan sampai kumakan lagi api cemburu yang lantas membuatku berenergi untuk marah. Memangnya kamu gak bosan aku kirimi pesan ribuan huruf? Lagian. Sudah tua. Bukan abege lagi. Fokus saja pada masadepanmu, tak usah banyak ikuti tikungan berliku. Toh kasih sayangku jauh lebih besar dari amarahku. Doaku masih terus ada untukmu. Kuatkan!

Mencekik Merah Pilu Membentak

Rasanya mencekik dalam hati. Tampak merah seperti amarah. Dia pilu lama-lama layu. Dia tersentak bak hati membentak. Seakan terkupas mengelupas hampir tuntas. Persis seperti diri yang belum dihargai. Ia menuntut menggelut. Bukan meminta tapi menyita. Kepercayaannya memudar.

Kamis, 07 Agustus 2014

Biar Tuhan Mengeratkan Dua Hati Menjadi Ibadah Yang Suci

Airmata yang sudah memantapkan hati untuk diam disini tanpa mau se-inchi saja menjauhi apalagi pergi. Kutetapkan dalam diri aku akan menggoreskan tinta dalam hati yang tak akan pernah ku hapus lagi. 
Apapun yang menemani akan selalu menjadi semangat tersendiri menggapai mimpi dalam janji. 
Tak pernah luput dalam sujud setiap bersimpuh. 
Ia kuat terbaca terucap dalam doa. 
Mendekati pasti menjadikan doa seperti rasi berbentuk indah ketika bersinar ia dikabulkan. 

Pernah ada airmata tercurah menghampiri pipi terus melaju hingga kedalam hati.
Bukan sedih melainkan lirih berharap semua ucap adalah doa. 
Berharap Tuhan mendengar lagi membuat nyata. 

Sudah ini yang terakhir, tak pernah lagi mau membuka hati.
Apalagi menyakiti diri. 

Biar Tuhan mengeratkan dua hati.
Menjadi Ibadah yang suci. 
Dihadapan Ilahi. 

 

 

Hati Yang Sama, Sewarna, Kudekatkan Dengan Doa

Berkali-kali aku jatuh hati pada hati yang sama. Yang sewarna ketika pertama kali aku menyentuhnya.

Hati yang bukan cuma membuat aku mampu bersinggasana manis didalamnya, tapi hati yang juga mampu membuat aku berlari mengitari segala arah menjadi sarana aku berteduh disana.

Letak aku terjatuh tepat pada itaran hati yang mampu mengasihi lebih dari adanya hati. Menaungi sedemikian lelah, resah, amarah dan iri.

Bersyukur karena adanya hati pada waktu yang hadir pasti dan tidak menyakiti. Hanya pernah perih beberapa hari untuk pembelajaran diri lebih baik ketimbang diam berlutut disudut lirih.

Mengagungkan perintah Tuhan tanpa harus lelah terus mendekatkan dengan doa-doa. 
 

Ia.. Sang Hati

Ketika fikiran ini cemas, ia pun ikut gundah, resah.. Ia Sang Hati.

Ingin menata mati janji-janji yang belum pasti. Ingin meyakini hati yang termiliki. Namun gundah selalu menghampiri. Diantara hari demi hari. 

Berusaha sekuat hati mengikat diri dari segala iri yang mengiris. Mengajarkan ia, Sang Hati untuk tetap berdiri. Melawan pahit disini. Berteman sepi. 

Setiap hari ku bujuk ia Sang Hati untuk mengubah sepi mengingat janji tak kan pernah pergi sebelum mati semua rasa di hati. Bukan cuma janji tapi persetujuan tak ingkar hati. Menanti detik menjadi hari. Menanti datangnya takdir yang pasti. Didepan diri didepan hati. 

Sampai sedemikian hari. Masih kutuntun doa mengalir pada hati yang satu lagi. Yang ada diantara hati yang kumiliki.  

Wahai Sang Hati, bertahanlah hingga kau miliki pasangan hati hingga takdir menyetujui. Berdiri, jangan pernah bungkam dimakan iri. Yakini memang pantas memiliki.

Jumat, 25 Juli 2014

Jika kau bukan jodohku, berarti memang bukan aku yang kelak mampu melengkapi ibadahmu pada Tuhan.

Disetiap doaku pada Tuhan, aku selalu meminta untuk didekatkan kepadamu dengan cara yang baik, dijodohkan denganmu dengan cara yang baik dan meminta didekatkan keluarga kita juga dengan cara yang baik. Tuhan menjawab semua doaku. Tuhan memang memberi yang baik tidak selalu dengan cara yang menyenangkan. Ketika kini aku jauh darimu, tanpa kabar darimu.. inilah jawaban doaku pada Tuhan. Tuhan mendekatkan ku denganmu dengan cara yang  begitu baik, melalui doa. Karena sesungguhnya aku menyayangimu karena Allah. Subhanallah.. Begitu banyak dosa yang ku perbuat tapi Tuhan selalu mendengar setiap lirihnya doa-doaku. Sehingga Tuhan buat aku tak ingin melewatkan satu kali saja doaku untukmu dan untuk orang-orang yang kusayangi. Jodoh memang ditangan Tuhan. Tapi Tuhan Maha Pengasih. Ia tak segan memberi apa yang diminta umatnya. Aku meminta pada Tuhan supaya kelak kau dijadikan imam yang baik untukku dan anak-anak kita. Aku percaya Tuhan mendengarnya. Kita bersama, tapi jarak tak harus dekat. Seperti ini pun kita tetap bersama, sama-sama saling mendoakan. Kesabaran, keikhlasan kelak akan menjadi airmata yang bahagia. Insya Allah. Meski tak selalu tahu tentang keadaanmu, aku yakin Tuhan menjagamu dari apa-apa yang buruk, dari segala khilaf. Aku percaya kelak Tuhan mendengar itu. Kini aku bukan lagi aku yang akan selalu tau bagaimana tentangmu, tapi aku kini aku yang sedang berusaha menjadi yang terbaik dimata Tuhan. Karena setiap wanita sama, yang membedakan hanyalah ketaatan pada Tuhan. Suatu saat jika aku sudah menjadi wanita yang baik akhlak dan perilakunya, bukan cuma Tuhan tapi kau juga pasti akan melihatnya. Tak perlu aku khawatir kehilanganmu. Karena goresan garis hidupku telah diukir oleh Yang Maha Kuasa. Jika kau bukan jodohku, berarti memang bukan aku yang kelak mampu melengkapi ibadahmu pada Tuhan.

Selasa, 22 Juli 2014

Rindu, Mengubah Satu Menjadi Ribu

Rindu dipicu karena adanya rasa yang berlabuh dalam kalbu, ia tak pernah jemu malah terus menggebu mengubah satu menjadi ribu, berlari terpacu menuju kelu ia terus membeku kaku terpaku bisu dalam kalbu. Ia sungguh batu tak mau tahu berapa kalbu yang teradu, betapa pilu yang mengaduh, betapa gaduh yang termadu. Rindu tersandung jatuh pada satu labuh yang tabu, belum tentu mau bersama berpacu dalam satu jalur rindu, hanya menjadi palu yang memukul tulang rusukmu. Rinduku lumpuh pada malu mengejar restu pada satu kalbu yang gagu. Ia terus diam membisu tak pernah mau sedikit saja beradu menyentuh keluh yang terujar pilu. Sudah. Kini biar rindu menjadi beku. Rindu yang semula sejuk menjadi remuk. Satu bentuk menjadi rapuh. Mengubah kembali satu menjadi ribu. Biar ku usung semua rindu, kembali pada kalbu yang berlabuh satu, tetap pada diriku. Biar kami bersama bisu, tanpa siapapun harus tahu. Bahkan tak perlu siapapun mau.

Senin, 14 Juli 2014

Sudah Pernah Ku Tertatih

Benar tentang berserah. Benar tentang diam lebih baik daripada bicara. Benar tentang tidak terlalu berharap. Tuhan secara tidak langsung selalu mengajarkan itu. Sekarang kembalilah aku pada keadaan dan jalannya diriku. Bersimpuh berserah berdoa padaNya. Entah tentangmu atau tentang keberserahanku padaNya. Biarlah lirih ku berbicara pada Tuhan jika memang engkau tak lagi mau mendengar. Biarlah ku mengangkat tangan ini pada Tuhan jika memang usaha tak mampu berjalan. Aku sepertinya memang sudah tercipta dari cerminan masalalu. Beralas pada keterpurukan hidupku sebelumnya. Ya, sudah pernah ku perhitungkan adanya kesakitan ini. Sudah pernah ku perhitungkan kejatuhanku kesekian kalinya. Bodohlah manusia yang memang berkali melakukan kesalahan terbesar didunia. Jangan pernah tanyakan yang terjadi berikutnya. Sama persis bodohnya. Sama persis perihnya. Sama persis berkalinya. Cukuplah aku mengerti tentang segala kicauan hidupku. Cukuplah aku yang tahu persis mengapa aku. Cukuplah aku merasakan bagaimana aku setelah ini. Bukan  kebaikan yang pernah tertanam maka bukanlah kebaikan juga yang akan datang pada keadaanku. Sudah pernah kusendiri. Bahkan sudah pernah ku tertatih. Sudah pernah seperti ini. Inginnya terucap 'biasa'. Tapi perihnya yang tidak biasa. Pernah juga aku tak percaya. Pernah aku begitu bersemangat. Pernah aku terpatahkan lagi oleh keadaan. Dan kini lagi kurasa. Patah itu bukan hanya serat yang hampir putus tapi sudah putus terbelah menjadi dua sisi. Sisi yang lebih banyak ada padaku adalah sisi semakin dalamnya ingatanku pada hidup-hidupku. Hidup yang menjadikan aku. Tentang kesalahan yang sedang berlalu. Tentang perilaku pembawa keputusan hidupku. Tentang sebagaimana besar kehancuran hidup yang berjalan 'pada' aku. Tak perlu siapapun mengerti tentang itu. Karena setiuap perhitungan sudah kutulis adanya. Sudah kusembunyikan rapat pada harianku. Sudah biarkan kuabaikan meski akan terhitung nantinya. Tak ada yang perlu mengerti. Cukup aku yang harus menguatkan sendiri. Tentang bagaimana waktu pada pribadi. Tentang bagaimana waktu pada diri. Terimakasih tentang ketulusan. Terimakasih untuk ketidakbalasan terhadapnya. Terimakasih pernah ada menguatkan.;

Siapa Ia?

Siapalah ia, pengganggu disetiap tidurmu, keresahan disetiap hidupmu, bahkan penghalang disetiap langkahmu. Siapalah ia, sang pembawa kekecewaan, keegoisan. Tendang saja ia jika kau ingin. Tamparan mungkin sudah kebal dihadapkan kepadanya. Tendanglah sekencang sesukamu, injaklah ia yang mungkin sudah menginjak harga dirimu. Tuhan pasti ada padamu. Tuhan lebih sayang pada hatimu. Tak usah pedulikan apa-apa tentangnya. Biar ia jatuh terpuruk, terinjak bersama kotoran-kotoran dunia lainnya. Siapalah ia bagimu? Perusak akhlakmu, perusak ketaatanmu, penghancur masamu. Buanglah saja ia seperti kau membuang sampah dihidupmu. Biarkan ia bergabung dengan ketidakbergunaan lainnya. Hidupmu terlalu indah untuk ia rusak karena keberadaannya. Nyatanya kau bahagia tanpa sampah itu. Berdirilah bersanding dengan keindahan yang lainnya. Yang juga mampu mengindahkan hidupmu, bukan mengganggumu. Yang pasti mampu kau dukung kesetiaannya.

Kepada aku..

Kadang mentari enggan menyinari sosok gelap diri ini
Kadang rembulan enggan mengindahkan redupnya hati ini
Kadang memang waktu enggan bersisi kepada keadaanku ini


Aku biarlah aku kepada aku

Biarlah waktu kepada aku
Biarlah perih kepada aku


Aku keegoisan
Aku si pembuat kecewa
Aku perasuk masalalu


Waktu memang selalu tepat
Beradu keegoisan penat
Beradu kemarahan sangat
Kebencian tersemat


Aku biarlah kepada aku
Sang kekalahan
Sang kelemahan
Sang keburukan


Hidupku kepada aku
Tentang masalalu aku
Tentang cerminan diriku


Tak ada sempurna menghadap kepadaku

Selasa, 10 Juni 2014

Disana..

Disana, tempat yang ku suka. Udaranya, sejuknya. Berteman dengan suara kicauan burung didepan rumahmu. Duduk di teras itu bersamamu di tengah malam. Besok aku akan segera kesana, kali ini untuk bertemu mamah mu. Aku ingin bercerita tentang keadaanku. Tentang keadaan kita. Semoga ada pencerahan untuk keikhlasan disana :) 


Rabu, 04 Juni 2014

Aku mampu melakukannya untukmu

Kadang harapan memang tidak selalu sejalan dengan pencapaian. Adakala ketika harapan yang sudah sirna tiba-tiba hadir dengan warna yang begitu jelas didepan mata, bisa menyilaukan, kadang hati ingin segera merebutnya. Terlupa dengan pencapaian yang sudah ada, meski pencapaian tidak sempurna, tidak sama dengan harapan, tidak berwarna secerah yang telah sirna tapi pasti pernah ada perjuangan didalamnya. 

Buatku, harapan seperti bagian dari tujuan hati. Hati, bukan hidup. Karena harapan kadang tak sama garis lurusnya dengan hidup yang sudah kujalani. Ya, harapan bisa membuat semangat tersendiri disisi hidup. Semangat yang mampu berdampingan, meski harapannya sendiri tak berdampingan.

Opiniku adalah cermin sebelum aku bertanya pada oranglain. Terang saja, pertanyaannya pasti tentang harapan. Keinginan, hasrat hati yang mungkin lama terkekang dalam keharusan saru. Kini seperti aku melihatnya terang, cerah didepan matanya. Entah apa dalam hatinya. 

Tapi aku rasa ia masih menyimpan kepingan harapan yang pernah patah karena kenyataan. Harapan memang tak selalu harus dicapai. Ketika satu waktu, bahkan satu menit saja bisa berjalan bersama harapan yang entah menjadi nyata atau tidak, kebahagiaannya pasti mengalahkan apapun. Ya, walau hanya satu menit. 

Aku seperti bukan harapan. Tepatnya bukan yang diharapkan. Kesempurnaan, keinginannya tak sama dengan jalannya diriku. Banyak sekali PR yang aku kerjakan yang masih saja belum menemui nilai cukup dibandingkan pelaku pematah harapan lamamu. 

Ya, tidak ada seujung kuku aku dibandingkan dengan ia. Beberap waktu lalu, beberapa hari aku merasa ketika kau bersamanya, kau nampak begitu bahagia. Binar matamu di bingkaian foto itu berbeda dengan biasanya. Ya, bertahun-tahun lamanya harapan itu ada dihatimu tentu terbalas saat bergenggam dengannya. 

Harapanmu terlalu usang, beku. Aku sulit membersihkan bahkan menghancurkannya. Ada kekuatan lain didalam sana yang terus ada. 

Aku tunggu disini, jika kau masih mau berjibaku dengan harapanmu, silakan. Suatu saat aku akan mendengar kabarmu. Jika kabar itu baik untukku, aku masih ada disini untukmu. Jika kabar itu buruk untukku, aku akan selalu mendoakanmu.


Bukan cuma kau yang pintar menyimpan bertahun-tahun harapan, rasa dan hati. Kau tidak pernah tau, aku juga mampu melakukannya untukmu.

Senin, 12 Mei 2014

Bukan Terbelakang, tapi Dibelakangi..

Jangan sibukkan diri dengan banyak sekali orang diluar sana, coba tengok orang terdekat. Kenapa dan bagaimana yang dekat saja tidak bisa ikut tumbuh bersama mereka yang sudah berbuah? 
Coba lihat seberapa dari berapa orang yang juga ingin menumbuhkan kembali dirinya diantara lebatnya buah kalian? Bukan kasihan, tepatnya 'tak dianggap'. Kita mulai bersama dari sama sama menanam bibit, menyiram bersama sama.. Tapi ketika seberapa sudah berbuah bahkan mereka 'menggangap dirinya' berbuah paling banyak, mereka lupa.. bukan lupa, tidak mau menengok :) 

Jangan jauh-jauh melihat orang yang begitu banyak diluar sana, coba lihat ke dalam, disudut belakang. Bukan terbelakang. Tapi dibelakangi.

Ini tidak bicara tentang saya, tetapi ketidaknyamanan yang saya lihat. Jika kalian tidak mengakui rasa itu, ya silakan. Pandangan saya bukan suatu kewajiban setiap orang. Saya bukan Tuhan.
Kalian memang satu suara, ya, kalian. Karena hanya seberapa bukan semua. Kalian memang yang 'terhebat'. Terhebat apa? Saya tidak mau menjelaskan. Biar saja yang baca menyimpulkan sendiri. Dari sudut pandang yang pembaca suka :) 

Misinya sudah berubah, juga visinya. Satu ke satu. Dua ke satu. Beberapa orang sudah saling berani memulai berbicara di 'belakang'. Kaum dibelakangi.

Nanti akan tersadar dengan sendirinya, ketika kekurangan kalian sudah tak bisa diimbangi. Dan kalian butuh kalian yang lain. Terus saja seperti itu, nantinya tidak akan menguat. Malah hancur. Dan ini sudah mulai.. bukan hampir.. tapi sudah :) 

Coba berdirilah yang TEPAT. Jangan sengaja membelakangi :)

Senin, 28 April 2014

"..........................."

Enggan. Aku sampah. Berguna pun tidak. Tercipta beda. Melenggang lepas pada kesalahan. Kikuk. Meringkuk. Pada  amarah menunduk. Pada diam ku melawan. Berat. Lambai. Aku abai. Pada kasih yang tak sampai.

Kelu

Aku mencoba berjuang melawan lelah. Melawan asa. Siapa yang peduli tentang perjuanganku?
Jangan bicara perjuangan karena kau lebih sakit berjuang ketimbang aku.
Hasilnya carut marut antah berantah. Entah siapa yang benar dan salah. Semua semu. Kelu. 
Jangan bicara penghargaan ketika aku tidak menghargai.
Ya, aku. Sang keegoisan. 
Aku hanya ingin apapun yang terbaik untukmu. Tapi yang kufikirkan baik itu tidaklah baik bagimu. Siapa peduli?
Banyak. Onggokan mulut bicara diluar sana. Menelan bulat bulat tentang kebenaran mereka.
Aku memang berbeda. Otak ini punya pemikiran melenceng. Tentang apapun. Karena aku tidak suka berfikir sama.
Masa bodoh dengan hatiku sekarang. Masa bodoh dengan kebenaran yang aku fikirkan.
Coba saja aku ikuti kebenaran kebanyakan. Biarkan hasilnya terkuak. Pentingkah aku untuk dirasakan.

Madame..

Mungkin orang lain melihatmu seperti menyulut korek api lalu kau besarkan api nya. Aku mencoba berfikir, dan rupanya aku temukan. Mungkin kau hanya ingin membakar sesuatu yang tidak bercahaya, ingin kau biaskan terangmu supaya bersama lebih bersinar. Namun rupanya terlalu cepat kau redup dalam biasmu sendiri hingga kini ia yang membakarmu. 

Hidup terlalu mudah jika kalian berfikir selalu dengan logika. Karena rasa datang tidak berdasar logika. Manusia miliki banyak kekurangan. Ia pasti pernah dituliskan Tuhan untuk abai pada sesuatu yang tidak logika. 

Tuhan tidak tidur. Ya, benar. Bahkan ia yang menguatkan ketika kita tertidur terlelap dalam buaian dunia. Tidak ada yang kebetulan. Karena Tuhan mengatur segalanya. 

Hai teman.. Tidak banyak kita bertemu. Tapi cukup untuk aku mengenalmu. Tentang kerja kerasmu. Usahamu. Perjuanganmu. 

Aku menghela nafas ketika itu ku tau kau berada dalam masa sulitmu. Ingin membantu tapi ku tak tau. Aku tau perjuanganmu. Tujuanmu saat itu. Hanya berselang cerita tapi aku paham betul hati wanita sepertimu. Kau dikuatkan Tuhan untuk berusaha menjadikan keadaan lebih indah. Bahkan sekalipun bukan untuk hidupmu. 

Baru saja kemarin bertemu lagi denganmu. Nyes.. aku kaget. Iya. Sudah lama tidak berkabar rupanya denganmu dan dengan keadaanmu. Aku melihatmu luar biasa. Senyummu bahkan semangatmu. 
Tegarmu.. 

Tak banyak yang kuhadapi, tak berat yang kurasakan tapi aku mudah saja mengeluh. 
Kau seperti pembelajaran. Bukan untuk dirimu saja, juga untuk orang lain yang memandangmu. 

Setiap kepala punya pemikiran yang berbeda. Tak hanya satu, dua. 
Tapi cobalah pahami tentang ketulusan. Apalagi wanita. Makhluk yang mudah saja terjatuh dalam pelukan. 
Wanita bukan lemah. Tapi ia terlalu kuat untuk menerima semua hal diluar logika. Harapan misalnya. 

Contohnya aku, banyak berharap. Banyak usaha. Tapi banyak juga kesalahan. Hasilnya mana bisa difikirkan dengan logika? Bisa saja aku gapai harapanku. Tapi bisa juga aku malah tersungkur dalam harapku. 

Wanita akan selalu melakukan yang terbaik. Bahkan ia kadang menyampingkan lelahnya. Untuk siapa? Untuk ketulusan dibalik harapan. 

Siapa yang peduli untuk tau seberapa lelahnya seorang wanita menyapu lantai? Mencuci baju? Apalagi mengandung? 

Kalian yang merasa benar diatas kesalahan orang lain. Cobalah mengkaji. Mungkin ada yang lebih benar ketimbang kamu. Mungkin ada yang jauh lebih benar ketimbang yang lebih benar darimu. 


Tuhan tidak tidak tidur. Ia menguatkan tulangmu, madame.
Ia masih membimbing langkahmu.
Abaikan siapa yang menyakitimu. 
Biar ia jatuh dalam lubang lebih dalam darimu. 
Harap bairlah menjadi harap.
Tak usah risau akan doa. Ia pasti terkabul. 
Mungkin esok atau nanti.
Mungkin juga Tuhan menggantinya dengan lebih nikmat.


Ringkihlah dalam doamu pada Tuhan
Menyerahlah pada kepercayaanmu pada Tuhan
Jatuhlah dalam sujudmu pada Tuhan

Ia yang menuliskan jalanmu
Ia juga yang akan mempernudah itu


Tidak ada yang terlahir salah dan sia-sia
Semua adalah pembelajaran


Teman.. aku yakin Tuhan kuatkan kau dalam sedihmu
Aku percaya tubuhmu lebih kuat dari itu
Apalagi hatimu, pasti lebih tegar dari itu


Berjalanlah bersama perjuanganmu. Sekeras dulu. 
Tuhan pasti menilaimu. 





 


 

Minggu, 27 April 2014

Tanpa Batas - Sammy not a slim boy



Sammy not a slim boy, Presiden Stand Up Indo. Ia sudah tuntas melakukan tur Stand Up Comedy nya yang bertajuk #TanpaBatas dari yang pertama hingga vol 2. Semalam, di Gedung Dharma Bakti Taman Ismail Marzuki – Jakarta.

Saya menyukai Stand Up Comedy sejak setahun yang lalu. Dan #TanpaBatas pertama di Bekasi adalah show Stand Up Comedy pertama yang saya tonton langsung.  Siapa Sammy not a slim boy? Saya nggak tau. Tapi setelah show ini, saya tau betul dia siapa. Ya, bukan hanya seorang Stand Up Comedy-an. Tapi ia seperti berorasi, dengan nada-nada tinggi, dengan jokes nya yang ‘nyelentik’ setiap aktor dari bit-bitnya.

#TanpaBatasVol2 sempat mampir di kota saya, Cikarang. Dan saya BANGGA pernah menjadi panitia dari show om Sammy ini. Luar biasa. Dengan setelan hitam putih, dengan langkah yang benar-benar tegap, om Sammy naik ke panggung. Setelah 2 orang opener dari komunitas Stand Up Comedy Cikarang yang juga ikut ‘menggugat’ kini giliran Beliau sang Komedian Menggugat beraksi.

Satu jam ikut menyaksikan Sammy not a slim boy dengan materinya, membuat saya benar-benar bangga membantu mensukseskan acara beliau. Bit-bit yang luar biasa dengan nada-nada khas dari om Sammy, dari menit awal sampai akhir benar-benar tidak berubah. Ia selalu menghentak suaranya di tiap bit yang ‘menggugat’.  

Sekitar  280 penonton yang hadir di Cikarang malam itu begitu menyambut beliau dengan luar biasa. Standing Applause di akhir acara adalah wujud kesuksesan acara ini dimata penonton dan panitia tentunya.

#TanpaBatasVol2 terus melanjutkan tur nya ke 10 kota di Indonesia. Puncaknya semalam. Dengan sekitar 800 penonton yang hadir. Saya melihat juga beberapa artis seperti Pandji dan Kamga. Luar biasa. Saya tidak menyesal hadir semalam.

Dibuka dengan 3 orang opener. Dan salah satunya kebanggaan kami dari Stand Up Comedy Cikarang yaitu MasCemen. Dengan materi andalan dan bit-bit yang juga ‘nyangkut’ di ingatan penonton. Openernya saja sudah luar biasa, apalagi Headliner nya, bukan? 

Benar saja, tirai dibuka om Sammy berdiri disana dengan setelan kotak-kotak dan jas hitam kali ini. Dia terlihat berdiri bangga dengan 800 penonton didepannya.

Ia selalu membuka show nya dengan materi-materi ringan diawal dan semakin ke tengah acara bitnya semakin ganas. Bapak yang sudah 11 tahun menikah dengan 2 anak ini tak luput membuat jokes tentang anak-anak dan istrinya. Dan tawa penonton pecah disana malam tadi. 

Tidak sampai disitu, ditengah acara kita dibawa mengenal tentang sejarah Onani. Ya, onani. Haha ( aduh, ntah harus menulis ini atau tidak ). Om Sammy mengambil alkitabnya dan membukanya.. waw.. penonton sempat tercengang sembari ia meniru suara-suara kebaktian di Gereja. Ini dia mau ngomongin apasih? Dan benar saja, keluar bit nyeleneh tentang Onan. Tepatnya sejarah Onani. 

Dar! Tawa penonton semakin lepas meledak disana. Tepuk tangan bahkan standing applause saya lihat di sudut kanan atas gedung itu. Beberapa penonton benar-benar luar biasa. Mereka mencerna, membuka fikiran, ikut menggugat dengan materi yang beliau sampaikan.

Soekarno, Soeharto, Prabowo, Jokowi bahkan Foke juga tidak luput, Saudara! Eh tunggu, pak SBY, bu Ani, Boediono bahkan juga istrinya yang kita tidak tau namanya juga ikut tercantum di bit yang kocak semalam. 

Astaga!! Komedian yang satu ini selalu mengejutkan dengan bit-bitnya. Hentakan-hentakan suaranya yang khas sekali itu selalu membuat kesan tersendiri untuk saya. Kekuatan nada suara satu jam berdiri didepan sana, adalah hal yang begitu luar biasa. Dan ia tidak hanya berdiri, tapi juga ‘menggugat’. Apalagi level diatas luar biasa? Ya itulah dia.



Favorit saya malam tadi adalah.. 

“..DAN KITA MASIH BERANTEM SAMPE SEKARANG”
“BAHKAN PENGORBANANNYA AJA GAK JADI”
-Sammy not a slim boy

 Aduh, ini itu kayak nemu barang yang dicari-cari. NAH! Entah apa semua penonton malam tadi terbuka fikirannya atau tidak, tapi yang jelas tepuk tangan keras terdengar. Ah, lagi-lagi luar biasa. Om sammy selalu bisa mengajak kita membuka fikiran dengan mengajak kita berfikir lewat hal-hal yang mudah sekali dicerna.


Bitnya tentang ‘Turunkan Soeharto’ juga menjadi favorit saya.
“Kenapa soeharto turun?”,
                “Nggak tau, gw gak tau. Padahal kan kita gak serius. Tapi dia turun beneran”.
-Sammy not a slim boy


Saya ngga tau mau bilang apalagi, Cuma bisa megang pipi sambil ketawa. Bit tentang Pak SBY dan istrinya, Pak Boediono dan istrinya, sampai ke istri Ahok ini mungkin juga jadi bit favorit penonton karena saya merasakan kemegahan tawa yang luar biasa.

Lagi-lagi memang selalu ada yang mengejutkan. Om sammy membahas, mengupas bit-bit Pandji dan Ernest. Mematahkan nya menjadi sangat lucu. Tentunya karena Pandji dan Ernest juga hadir duduk dibangku penonton, penonton yang lain lekas mengarahkan pandangannya pada mereka. Hahahaha... entah apa difikiran mereka yang tiba-tiba ikut juga menjadi guyonan malam itu.

Setelah sekitar 1 jam lebih 10 menit ‘menggugat’, sampai diakhir acara. Bit terakhir membawa penonton berdiri sambil bertepuk tangan keras dan bangga. Beliau menutupnya dengan kesan yang juga luar biasa.


“TERIMAKASIH KALIAN SUDAH MEMBANTU MEWUJUDKAN MIMPI ANAK-ANAK GW”
“Gw berharap 10 tahun lagi anak gw nunjukin dvd ini sama temen-temennya dan dia bilang : This is my dad, my dad!”  - Sammy not a slim boy.


Ikut terharu dengernya, kalau aja anaknya nonton mereka pasti bangga sekali melihat ayahnya didepan sana. Om sammy terlihat menutup acara dengan kebanggan sendiri pada dirinya. Kami juga ikut bangga menjadi bagian kesuksesanmu, om Sammy.

Kami pasti menunggu ‘gugatan-gugatan’ berikutnya. :) 


Selasa, 22 April 2014

Saudaraku, kalian tempat kedewasaanku

Beberapa memang selalu melihat aku sebagai 'kesalahan'. Mereka senang ketika menyudutkan. Ya, mereka teman dekat. Bahkan kuanggap saudara. Mereka begitu dekat. Sering sekali bersama. Seharian penuh, kadang. Yang mereka lihat memang selalu kesalahan. Aku tidak sempurna, aku bukan bidadari. Hehe. (Aku gunakan 'hehe' supaya terlihat tidak terlalu serius).

Salahnya mungkin memang aku hadir ditengah persahabatan kalian. Mungkin 'cuaca' ku tak seiring dengan musim kalian. Iya, aku. Aku. (Barusan aku sedang meniru kak Dodit di SUCI 4). Jangan terlalu serius membaca ini. Aku hanya sedang mendramatisir. 

Aku paham. Kalian baik. Mengingatkan. Mungkin aku yang belum mampu menerima 'pancaroba'
Saking banyaknya waktu yang kita lewati bersama. Tak ada satu sifat pun yang mampu aku jaga, aku sembunyikan kejelekannya. Aku memang hanya bisa begini. Apa adanya. Didepan dan dibelakang. Kalian tau betul. 

Tak apa walau kurasa tak suka. Tapi baiklah akan ikhlas aku terima. Laki-lakiku pernah berkata: "Belajarlah ikhlas, belajar besyukur". Ilmu itu kini terpakai. Seberapapun mereka mengumbar keburukanku. Ya itulah aku. Aku akan bertanggungjawab karena sifat ku sendiri. 

Kalian bebas menilai aku. Kalian bebas menyudutkanku. Kepada siapapun bahkan kapanpun. Bukan kewajiban kalian mengerti hatiku. Terimakasih. Adanya kalian mungkin teguran untuk aku. 

Aku tau, mungkin kalian tak senang aku ada disamping laki-laki itu. Laki-laki itu memang baik sekali. Aku mengerti jika kalian tak ingin ia bersanding dengan wanita tak baik seperti aku. Aku mencoba paham. Cinta tidak ada yang tau, kapan ia datang, kapan ia menerpa dan kepada siapa. 

Aku manusia biasa. Dengan rasa yang biasa. Tak ada kelebihan kepekaan untuk itu. Aku hanya menjalani. Mungkin ini yang Tuhan tuliskan. Aku bisa bersamanya. Ya, walau aku tau tak bisa kubuat ia bahagia. 
Kalian memang teman yang baik hati. Tak ingin sahabat kalian terluka. Sekali lagi terimakasih. 
Karena kalian aku belajar. Melihat kesempurnaan keagungan Tuhan. Begitu banyak manusia yang berbeda. Dan inilah dimana aku harus belajar. Bukan untuk terlihat baik dimata orang. Tapi untuk perubahan diri. Kearah yang lebih baik. Yang mungkin nanti 'suhu' ku akan cocok bersanding dengan kehangatan persahabatan kalian. 

Biar aku diam. Biar aku mendekat pada hatiku. Biar aku lebih mendekat pada Tuhan. Hidup tak selalu bisa kurangkai indahnya. Tuhan yang mampu. 

Ada kelebihan pada diriku yang tak kalian lihat. Buktinya Tuhan kuatkan aku ketika siapapun menyudutkanku. Hehe. 

Saudaraku, kalianlah tempat aku mendekat pada kedewasaanku. Jangan terlalu menyerang aku dengan kurva yang tajam. Ajari aku mengalun seperti gelombang. Aku juga punya kelebihan. Pasti. Walau akupun tak tau berguna atau tidak itu pada kalian. Pahamilah, setiap manusia punya kelemahan, punya kekurangan. Hanya saja mungkin pada diri ini terlalu banyak. Salahnya aku, tidak kunjung memperbaiki. 

Terimakasih kalian sahabatku, saudaraku. Untuk tegurannya. Untuk ucapan kalian. Sikap kalian. Terhadap aku. Kini, biarlah aku berdiam diri. Merangkai, mendramatisir kata. Kelak, akan ada manfaat dari ini semua. Untuk aku, juga kalian. 





Egoku..

Seperti menyapu abu dalam ruang berdebu
Ia seperti bisu namun menggebu
Biar ku sapu, ia tetap abu dan debu

Ia datang bersama udara 
Berleha-leha mengudara
Ia merasuk kesetiap hela nafas

Mengusirnya pun sulit
Ia selalu berkelit
Lewat celah sempit 

Selalu ada, datang
Bak begadang
Tak kenal terang
Selalu gerang

Aku bukan perempuan
Yang pandai menuai
Bibit indah senyuman

Biar waktu mempertemukanmu
Kau dengan wanitamu
Yang mampu 
Dengan sempurna mendampingimu


Mungkin aku
Tapi pastinya tak bersama egoku








Kamis, 03 April 2014

Aku tidak cukup pintar merangkai cara membahagiakanmu

Hai kamu.. Iya, pengisi hati selama ini. Sudah berapa jauh kau berjalan di hati ini? Kenapa rasanya hari ini tidak ada pergerakan langkahmu yg ku rasa? Kau sedang diam kah? Atau berhenti?
Hati ini bagian kecil dari diriku tp setiap inchi kau bergerak, jelas terasa. Maaf ya kalau hati ini tak terlalu luas untukmu. Maaf juga tak banyak yg menggembirakan ketika kau bermain didalamnya.

Hati ini memang bukan bidadari. Yang cantik dan lembut. Hatiku apa adanya diriku. Jika diberi warna mungkin itu gelap, hitam, pekat. Tidak cerah, tidak indah. Ya itulah memang.

Lelah ya menghadapiku? Baiknya kau bicara. Daripada diam, aku akan salah menilai. Aku tidak cukup pintar merangkai cara membahagiakanmu. Aku bodoh untuk memahamimu.

Iya, orang diluar sana pun mengatakan itu. Aku diminta juga untuk bertahan. Katanya kamu baik untuk ku. Ya jelas. Buktinya aku memilih bersamamu. Kalau sekedar itu, aku paham betul. Bagaimana kau ajari aku, temani aku lebih baik.

Yang tak ku pahami. Hari ini. Sekarang. Beda rasanya dengan kemarin. Aku jadi bingung. Siapalah aku? Seberapa besar arti hubungan ini?

Aku tidak pandai menyelesaikan masalahku denganmu. Aku hanya bisa menyusunnya menjadi masalah yg lebih rumit untuk dicari jalan keluarnya.

Makanya, aku membutuhkanmu. Kau lah yg mampu membimbingku untuk kita jawab bersama semua yg membelenggu.

Maaf mungkin terlalu bosan kau dengar. Tentu saja aku bingung apa yg harus aku perbuat. Kata tak lagi teranggap. Sikap tak lagi mendekap.

Kini hanya diam yg bisa aku rangkai. Entah tumbuh menjadi semangat atau kerapuhan.

Biarkan bisikan hati yg menguatkan..

Selasa, 01 April 2014

Derita hati berhentilah disini

Aku sedang lelah
Jangan dulu hadir wahai kau kesah..

Aku sedang sedih
Tunggu sebentar disana, perih
Biar nanti aku yang menjemput itu sendiri..

Aku juga sedang gundah
Wahai cinta mendekatlah..

Tapi sebentar,

Biar ku pejamkan sejenak hati ini
Biar ku persiapkan diri
Jika saja luka datang lagi menghampiri..

Cintanya itu mungkin sedang pergi
Sejenak terasa tak lagi ada disini

Penghujung rindu tak terlihat lagi
Hanya diam mengakhiri

Wajahpun tak dapat terpungkiri
Belum lagi terlihat bahagia di pipi

Wahai derita hati
Berhentilah disini
Jangan terlalu lama menggeluti
Kasihan hati yang tersakiti..






Rabu, 19 Maret 2014

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai

Mas Ai..
Begitulah aku biasa menyapa keponakanku tersayang ini, Muhammad Fachri Al-Buchori.
Ia anak pertama dari abang sepupuku yang begitu dekat dengan keluargaku. Ia biasa bermain dirumahku tak kurang dari satu bulan sekali. Nenek.. begitu ia biasa memanggil ibuku. Setiap kali ayahnya libur kerja, ia selalu meminta untuk pergi bermain kerumah nenek. Ia begitu dekat dengan keluargaku. Tawanya, senyumnya, gaya bicaranya tak pernah terlupakan dari benak kami. 

Mas Ai ketika ia masih sehat

Jaket spiderman yang selalu ia gunakan setiap kali ia pergi pun selalu terbayang-bayang dimataku. Ya, spiderman. Tokoh pahlawan kesukaannya.

Ia juga begitu suka ikan. Aku ingat, terakhir kali ia datang kerumah ketika ia masih sehat, masih bisa berlari, ia meminta aquarium kecil yang ada dirumahku.Tak lama ia mengajak ayahnya pergi membeli ikan walaupun siang itu matahari begitu terik, tak ada lelah di wajahnya, ia terlalu bersemangat tidak sabar melihat ada ikan ikan yang akan berenang kesana kemari dalam aquarium kecil itu.
Tahun-tahun yang lalu adalah hari-hari dimana aku dan ibuku begitu puas bermain bersamanya. Tertawa dengannya. Melihat keceriaannya. Ya, ia anak laki-laki yang jarang sekali menangis. Ia tak suka jika melihat siapapun menangis dihadapannya. 

Hingga satu hari, aku mendapat kabar Fahri jatuh sakit. Menurut dokter disebuah klinik, Fahri terkena thypus. Aku dan ibuku langsung pergi menengoknya. Kami melihat Fahri turun berat badannya. Ia terlihat lebih kurus dari sebelumnya ketika terakhir ia datang kerumahku. Bibirnya kering, pecah pecah, wajahnya pun pucat. Aku biasa membawakan jajanan untuk keponakanku ini. Dengan tersenyum aku selalu menyodorkan jajanan itu untuk Fahri makan. Dan ia selalu menyambutnya. Ia anak yang baik, anak yang tidak pernah mau merepotkan orang lain, termasuk orangtuanya. 

Satu minggu, dua minggu Fahri tak kunjung membaik. Bahkan tubuhnya semakin kurus, ia malah tak bisa berjalan. Keadaan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan membawa Fahri ke Rumah Sakit.  Fahri dibawa lagi ke klinik. Dan lagi-lagi Fahri dinyatakan Thypus. Tak berapa lama, ibunya mengatakan Fahri habis jatuh. Entah jatuh dimana dan kapan. Semakin lama, kaki Fahri membengkok kesamping, tak bisa diluruskan, untuk dudukpun ia tak bisa. Ya Tuhan, sungguh terpukul aku melihat anak laki-laki kesayanganku itu tak berdaya. Ibuku yang selalu menagis ketika kuajak ia datang menengok Fahri. 
Keadaan ekonomi orangtuanya yang tidak bisa membawa Fahri ke Rumah Sakit, akhirnya membawa ke Pengobatan Alternatif dibeberapa daerah. Namun hasilnya nihil. Fahri tidak kunjung membaik. Akhirnya, abangku, ayah Fahri berusaha meminjam uang kesana kemari untuk biaya membawa Fahri ke Rumah Sakit. Fahri dibawa ke salah satu Rumah Sakit Swasta di Pasir Gombong, Cikarang. Fahri dinyatakan terkena TBC Tulang. 4 hari ia rebah tak berdaya dirumah sakit. Karena biaya sudah habis, Fahri dipaksa untuk pulang. 
Sepulang dari rumah sakit tersebut, Fahri juga tak kunjung membaik. Badannya habis, tersisa kulit yang membalut tulangnya. Ya Tuhan, untuk memotretnya pun aku tak pernah tega. Orang tua Fahri membawa Fahri ke salah seorang dokter yang semenjak Fahri kecil biasa berobat kepada beliau. Dokter itu melihat kondisi Fahri, ia mengatakan Fahri sudah parah sehingga ia mengeluarkan surat rujukan ke salah satu Rumah Sakit Swasta di Tegal Gede, Cikarang. Disana, Fahri diperiksa. Terdeteksi ada tumor ganas yang sudah 80% memenuhi bagian perutnya. Tuhan begitu sayang kepada Mas Ai. Berbulan-bulan ia diberi sakit yang terus-menerus. Tapi ia tak pernah menangis. Ia tak pernah mau dianggap sebagai orang sakit. Tawanya, senyumnya selalu menempel di wajahnya. Dengan alis yang tebal, bulu-bulu halus yang begitu banyak ditubuhnya. Bibir imut dan dagu yang begitu manis. Ia terlihat begitu tampan.Ngangenin. Oh iya, ia sangat suka di foto. Sama denganku. Itu yang membuat kami begitu dekat.


Foto kami sebelum Fahri dibawa ke RSCM


Ekspresi wajah Mas Ai yang takkan terlupakan

Dari rumah sakit tersebut, Fahri kembali di rujuk ke RSCM. Tepatnya tanggal 17 bulan lalu, Fahri dibawa ke Rumah Sakit Besar dengan kelengkapan alatnya itu di Salemba. Aku meminta bantuan kepada komunitas Berbaginasi Cikarang, karena aku dan keluarga juga tidak memiliki banyak biaya untuk membantu Fahri. Alhamdulillah, dengan baik hati mereka membantu kami sampai saat ini. Beberapa donatur juga turut membantu Fahri. Mungkin hati mereka begitu terketuk melihat anak laki-laki kecil berusia 4 tahun ini terkulai lemas berbulan-bulan diatas tempat tidur. Selama Fahri dirawat di RSCM, ia dinyatakan terkena tumor Williams dan gizi buruk. Mungkin karena berbulan-bulan selama ia sakit, ia tak enak makan. Semakin hari, kami melihat perut Mas Ai yang semakin membesar. Aku semakin tak tega melihatnya. Berbaring dalam satu kamar besar bersama puluhan pasien kecil dengan penyakit-pemyakit yang juga parah. Ya Tuhan, selama aku menengoknya, tak henti aku berdoa, beristighfar, memohon penguatan untuk diriku yang sungguh tak tega melihat Fahri dan anak-anak kecil lainnya. Aku sempat mengobrol, bercanda dengan Mas Ai. Aku juga sempat berfoto-foto berdua. Walaupun tubuhnya lemas, matanya terlihat tersenyum di foto itu. Ia sangat tampan. Sangat tampan. 



Aku dan Mas Ai di ruang BCh RSCM


Ia tak pernah mengizinkan siapapun menangis didekatnya. Ia juga tak suka ditanya-tanya "apanya yang sakit?". Sungguh ku tau ia tak pernah mau menjadi beban banyak orang. Ia tak pernah menangis ketika jarum suntik menancap ditangannya. Ia diam saja, ia begitu kuat. Tubuh kecilnya benar benar luar biasa. Tak ada keluh yang terucap dari bibir imutnya itu. Sesekali ketika nafasnya mulai sesak, kadang ia menangis. Ia selalu memanggil ayahnya.. Bapak.. Mas Ai tak pernah mau jauh dengan ayahnya. Tidur, makan juga selalu ditemani ayahnya. 

Tuhan juga begitu sayang kepada abangku. Cobaan terus menerus dengan keadaan ekonominya yang sulit. Pekerjaan yang ditinggalkannya untuk menemani putra kesayangannya ini. Mas Ai seperti cetakan abangku. Wajahnya persis, tidak membuang sama sekali apapun. 

Mas Ai dengan ayah ibunya

Satu bulan dirawat di RSCM, Mas Ai mengalami collaps. Tak lama kondisinya kritis sehingga ia dibawa ke ICU RS MH Thamrin. Sekitar 5 jam ia berada di ICU, kondisinya tidak kunjung mendapat perubahan membaik. Pukul 23.00, aku mendapat kabar Mas Ai yang kembali kritis. Ayah, ibu, adik dan nenek ku dirumah terus berdoa untuk Fahri. Kami juga mengikhlaskan apapun yang terbaik yang Tuhan berikan kepada Mas Ai. 

Sekitar pukul 23.17 hari senin kemarin aku mendapat kabar Mas Ai sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Inalillahi wainaillahirojiun. Ibuku tak henti menjerit menangisi cucunya yang selama Mas Ai sakit ia selalu berkata, "kalo uda sembuh mau  bobo rumah nenek". Ucapan itu selalu terngiang ditelinga kami. Maafkan kami Mas Ai belum sempat menjemputmu untuk tidur dirumahku. Tuhan berkehendak lain. Tuhan sayang sekali dengan Mas Ai. Tuhan mau menjaga lelapmu lebih kasih dari kami. Tuhan mau memberimu tempat yang lebih indah dari ini. Tuhan ingin titipanNya kembali dalam dekapanNya.


Mas Ai.. ini aku kak Icha. 
Mas Ai, mungkin Allah begitu sayang sama Mas Ai. Ia tak mengizinkan Mas Ai tersiksa terlalu lama dengan selang-selang yang masuk kedalam tubuhmu. Allah tak mau tanganmu terus lecet terkena tancapan jarum suntik terus menerus. Allah mungkin juga tak tega melihat orangtua mu menjagamu was was setiap hari.

Mas Ai, begitu banyak foto kita berdua. Senyumnya Mas Ai selalu bikin aku kangen sama Mas Ai. 
Dari selasa minggu lalu, aku sudah sangat rindu kamu, Mas. Tapi aku beru sempat bertemu denganmu hari jumat kemarin. 
Jujur aku tak tega melihatmu seperti itu. Banyak selang ditubuhmu, Mas. Pasti sakit. Tapi Mas Ai gak pernah mengeluh. 

Mas inget gak, pas aku mau pulang aku tanya sama Mas Ai. "Mas, mau salam buat nenek?" , Mas Ai geleng-geleng bilang "nggak" , tapi Mas Ai ngeluarin air mata. Subhanallah. Mas Ai, aku tau kamu kangen nenek tapi kamu gak mau jadi beban pikiran siapapun.

Mas, aku kangen liat kamu pake jaket spiderman mu. Aku kangen liat senyummu mas. Aku kangen anggukan kamu kalo aku ajak foto bareng.
Tapi lihat kami Mas. Insya Allah kami ikhlas. Mas Ai main disana yang tenang ya. Doa kami selalu dikirim untuk Mas Ai.  

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai. Mas Ai selalu terkenang untuk kami. 
Usia mu baru 4 tahun, Mas. Tapi sifatmu selalu membuat kami takjub kepadamu. Banyak pelajaran yang kami dapat darimu, Mas. 

Mas Ai, aku sayang sama Mas Ai. Adik-adik kecilmu, dan seluruh keluarga sayang sama Mas Ai. 
Tidur yang nyenyak ya Mas Ai. Mainnya disana aja sama malaikat malaikat kecil yang lain. Yang sama baiknya sepertimu. 

Maafin aku ya Mas. Maafin nenek. Maafin kita belum bisa menjagammu dengan baik. 

Allah pasti memberimu tempat yang indah, Mas. Aku percaya, disana kamu pasti bisa jalan lagi, kamu bisa lari lagi. Perutmu gak akan sakit lagi , Mas.

Malam itu, kain kafan membalut seluruh tubuh Fahri. Aku tau pasti Mas Ai tersenyum didalamnya. 
Tangisku tak henti. Aku benar-benar terkenang dengan waktu-waktu yang pernah aku dan Fahri lalui bermain bersama. 
Doa-doa kami lantunkan untuk kepergian Fahri. Teman-teman, keluarga dan donatur yang membantu Fahri datang menemani jenazah sampai pagi pukul 08.00 Fahri dimakamkan.

Mas, kamu wangi sekali dengan balutan kain kafan itu. Mas jangan takut. Mas akan kembali sama Sang Pencipta.
Mas, terus tersenyum ya Mas. Bayangan senyuman kamu selalu menjadi penguat untuk kami, Mas. 
Banyak yang sayang sama Mas Ai. Pasti banyak doa yang ngiringin Mas Ai kembali kepada Tuhan. 



 

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai
Atas nama keluarga, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang telah membantu Fahri. Terimakasih kepada Berbaginasi Cikarang, Pak Herwin, Mba justsilly, Mba Irma dan seluruh komunitas yang telah membantu. Sekali lagi terimakasih banyak. 

Kita sudah berusaha tapi Tuhan tau mana yang terbaik. 
Semoga Tuhan tempatkan tempat yang begitu indah untuk malaikat kecil yang tampan ini. 

Selasa, 04 Maret 2014

Inginnya Inginku

Aku ingin menjelma bukan menjadi mentari tapi menjadi korek api yang setiap waktu kau butuhkan
Aku ingin kau anggap sebagai handuk kecil yang ada disaku celanamu untuk menghela keringat dan lelahmu
Aku ingin berada pada porsi dimana aku mampu menguasainya, bukan berlebih dimana aku tak sanggup
Aku ingin kau bersabar menanti waktunya aku layak menjadi penguat dalam hidupmu
Aku ingin kita akan tetap menjadi kita ketika salah ada pada aku atau dirimu
Aku ingin kita bisa mengatur waktu ketika itu kita dalam rapuh
Aku ingin aku kau kuatkan dengan kebijaksanaanmu
Aku ingin kau yang memilih menentukan penilaianmu
Karena aku hanya akan berusaha sekuatku, kau lah yang akan memilih dengan penilaianmu
Jika aku mampu, jadikanlah jemariku yang akan kau letakkan cincin pada saatnya
Jika aku tak mampu, tinggalkan aku dengan bahagia.. 

Senin, 03 Maret 2014

Tuhan memberi waktu aku memahami itu

Sebelumnya aku tau seberapa besar takutmu kehilangan akan kenanganmu. Aku sekedar tau itu dalam anganmu. Hingga dengan sengaja Tuhan memberi aku waktu untuk lebih memahami itu. Dengan sendiri ku melihat kenanganmu yang tersimpan rapi kau tata dalam tempat kenanganmu dengan ia, dan ia yang lain.
Aku menahan segala emosi yang tertuah saat itu. Aku menahan jatuhnya airmata dihadapanmu. Tapi semua usaha itu sia-sia. Jantungku belum siap untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. Nafasku masih terengah tak terkendali. Ku titikan airmata bukan untuk mencari simpati atas kekecewaanku. Hanya saja aku tak mampu  membendung kecemasan hatiku saat itu. Aku tau tidak ada yang tidak sengaja bagi Tuhan. Mungkin memang ujian itu datang disaat aku tidak siap menyambutnya. Mata ini serasa perih merintih berujung pedih. Hati ini seperti terpukul lebam membiru. Membekas sedikit dicelah bahagiaku. Beberapa waktu, aku memang butuh meluapkan amarahku. Maaf jika sempat juga melukaimu. Aku memang belum bisa menjadi bahagia yang kau harapkan. Mungkin aku belum juga bisa menjadi kepuasan dalam batinmu hingga beberapa hal diluar kita menjadi obatmu. Maaf untuk kebosanan akan rasamu denganku. Aku terus belajar, bukan sekedar membaca hatimu tapi memahami itu. Aku belajar menggoreskan kembali senyum diwajahmu bagian dari kebahagiaan kita. Aku belajar menguatkan hati bersujud memohon ampun atas segala khilaf hingga Tuhan datangkan ujian padaku. Terimakasih, Tuhan masih mengizinkan aku menjadi pengingatmu. Tuhan masih izinkan aku mendampingi ketika kau menyesali. Terimakasih juga kau telah mau untuk perbaiki sedikit retak dicelah bahagiaku ini. Semoga Tuhan masih izinkan kita terus berdamping ketika khilaf atau bahagia. Semoga Tuhan beri cahaya ketika kita meredup. Semoga Tuhan mendengar setiap lirihnya doa-doa..

Sabtu, 01 Maret 2014

Beralas Luka

Beberapa banyak memilih terlelap dalam cemburu. Aku salah satunya. Beberapa banyak memilih bungkam dalam diam, aku memilih tertawa. 
 
Ketika kau berjalan, yang kau telusuri tidaklah sebaik yang anganmu riasi. Ketika kau terhenti, hentian itu tidaklah sesebentar menghela. Ketika kau bersandar bisa jadi sandaran itu melukaimu hingga kau tidak mudah melangkah kembali.
Aku adalah bagian dari seorang jiwa yang tidak beralas, berani berjalan bahkan kadang berlari menempuh jalanan yang tak ku pahami likunya. Aku berani menari-nari indah diatas rerumputan angan yang ku hiasi dengan rancangan bahagiaku. Aku berani tertawa diatas pijakan yang mungkin masih tertanam beling didalamnya. Karena aku  tak tahu. Lebih tepatnya aku tak bersiap pada diri yang mungkin saja terluka walau hanya sedetik menginjak bagian tajamnya. Dan benar saja, ketika aku bersungkuh menghela lelah atas kegelisahanku, tidak sengaja bagian tajam itu melukai hingga terasa berair mata. Tidak seberapa banyak, tapi tajamnya cukup hilangkan satu rak perasaan dihati. Yang telah ku susun rapi. Kini bersedih. Meringkih, Tersulut perih. Nyaris habis. Tersisa pedih. Bergejolak dalam liriih.

Satu rak asa, rasa, jiwa terasa melebur terkuak atas dalamnya kecewa. Musnah. Tak berarah. Berbekas. Berbekas hangus. Seperti putus. Hingga membungkus rapat rapat kembali asa yang pernah sendiri ku cipta.
Ku rapihkan satu demi satu. Bukan kepingan, tapi abu sisa terbakar. Ku tempatkan pada keikhlasan. Biar saja hati yang mengelola. Seberapa kuat jiwa. Seberapa lapang dada. Seberapa mampu aku. Berjalan dengan terluka. Tergopoh. Sedikit tersiksa. Beranggap luka ini bukanlah luka, tapi ujian seberapa mampu aku berjalan lagi, dan kini beralas. Beralas luka. 

Rabu, 19 Februari 2014

#CharityForFachri




 M Fachri Al Buqhori, 4th. 


7 Bulan yang lalu Fachri sempat jatuh lalu demam tinggi yang di diagnosis thypus.Sudah berulang kali dibawa ke klinik terdekat. Namun kondisi Fachri tidak membaik.Fachri tidak bisa jalan dan semakin lama kakinya semakin kecil. Sempat ada kecurigaan dari orangtua yang melihat tulang belakang Fachri yang miring, lalu dibawa ke RS Sentra Medika Cikarang. Dirawat selama 4 hari dan di diagnosis TBC Tulang.


Sepulang dr RS tersebut, keadaan Fachri tidak membaik. Kakinya semakin kecil.Keluarga membawa Fachri untuk berobat alternatif ke beberapa tempat.Tapi Fachri masih belum membaik. Akhirnya Fachri dibawa ke RS Medirosa Cikarang, di USG lalu di diagnosis Tumor. Tumornya termasuk tumor ganas karena sudah 80% di dalam perut. Juga ada benjolan di ginjal, leher dan lengan. Ada kebocoran di usus Fachri sehingga menggangu limfa.  Sementara lambungnya belum bisa di cek karena tertutup tumor.


Fachri di rujuk ke RSCM. Senin, 17 Feb 2014 lalu Fachri dibawa ke RSCM dan masuk sebagai pasien umum. Fachri sudah menjalani transfusi darah sebanyak dua kali.Kondisi terakhir Fachri yang didapat dari Ibunya, mata dan kaki Fachri membengkak seusai transfusi darah kemarin juga mengalami gagal jantung. 

Hari ini harusnya Fachri menjalani CT SCAN dengan biaya 4,3jt.
Kami sedang berusaha mengadakan penggalangan dana untuk biaya penyembuhan Fachri. Karena biaya kesembuhan Fachri tentunya tidak murah. 


Untuk kalian yang mau membantu via transfer bisa cek pic diatas. 
Kami juga mengadakan galang dana  malam ini di openmic Stand Up Cikarang #CharityForFachri


Bantuan dan doa kalian sangat berarti untuk Fachri. Uluran tangan kalian bisa menyelamatkan kehidupan dan masa depan Fachri


CP :  

  • 089679352300 ( Novia ) 
  • 085715266446 ( Kuncoro )