Sabtu, 01 Maret 2014

Beralas Luka

Beberapa banyak memilih terlelap dalam cemburu. Aku salah satunya. Beberapa banyak memilih bungkam dalam diam, aku memilih tertawa. 
 
Ketika kau berjalan, yang kau telusuri tidaklah sebaik yang anganmu riasi. Ketika kau terhenti, hentian itu tidaklah sesebentar menghela. Ketika kau bersandar bisa jadi sandaran itu melukaimu hingga kau tidak mudah melangkah kembali.
Aku adalah bagian dari seorang jiwa yang tidak beralas, berani berjalan bahkan kadang berlari menempuh jalanan yang tak ku pahami likunya. Aku berani menari-nari indah diatas rerumputan angan yang ku hiasi dengan rancangan bahagiaku. Aku berani tertawa diatas pijakan yang mungkin masih tertanam beling didalamnya. Karena aku  tak tahu. Lebih tepatnya aku tak bersiap pada diri yang mungkin saja terluka walau hanya sedetik menginjak bagian tajamnya. Dan benar saja, ketika aku bersungkuh menghela lelah atas kegelisahanku, tidak sengaja bagian tajam itu melukai hingga terasa berair mata. Tidak seberapa banyak, tapi tajamnya cukup hilangkan satu rak perasaan dihati. Yang telah ku susun rapi. Kini bersedih. Meringkih, Tersulut perih. Nyaris habis. Tersisa pedih. Bergejolak dalam liriih.

Satu rak asa, rasa, jiwa terasa melebur terkuak atas dalamnya kecewa. Musnah. Tak berarah. Berbekas. Berbekas hangus. Seperti putus. Hingga membungkus rapat rapat kembali asa yang pernah sendiri ku cipta.
Ku rapihkan satu demi satu. Bukan kepingan, tapi abu sisa terbakar. Ku tempatkan pada keikhlasan. Biar saja hati yang mengelola. Seberapa kuat jiwa. Seberapa lapang dada. Seberapa mampu aku. Berjalan dengan terluka. Tergopoh. Sedikit tersiksa. Beranggap luka ini bukanlah luka, tapi ujian seberapa mampu aku berjalan lagi, dan kini beralas. Beralas luka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar