Rabu, 19 Maret 2014

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai

Mas Ai..
Begitulah aku biasa menyapa keponakanku tersayang ini, Muhammad Fachri Al-Buchori.
Ia anak pertama dari abang sepupuku yang begitu dekat dengan keluargaku. Ia biasa bermain dirumahku tak kurang dari satu bulan sekali. Nenek.. begitu ia biasa memanggil ibuku. Setiap kali ayahnya libur kerja, ia selalu meminta untuk pergi bermain kerumah nenek. Ia begitu dekat dengan keluargaku. Tawanya, senyumnya, gaya bicaranya tak pernah terlupakan dari benak kami. 

Mas Ai ketika ia masih sehat

Jaket spiderman yang selalu ia gunakan setiap kali ia pergi pun selalu terbayang-bayang dimataku. Ya, spiderman. Tokoh pahlawan kesukaannya.

Ia juga begitu suka ikan. Aku ingat, terakhir kali ia datang kerumah ketika ia masih sehat, masih bisa berlari, ia meminta aquarium kecil yang ada dirumahku.Tak lama ia mengajak ayahnya pergi membeli ikan walaupun siang itu matahari begitu terik, tak ada lelah di wajahnya, ia terlalu bersemangat tidak sabar melihat ada ikan ikan yang akan berenang kesana kemari dalam aquarium kecil itu.
Tahun-tahun yang lalu adalah hari-hari dimana aku dan ibuku begitu puas bermain bersamanya. Tertawa dengannya. Melihat keceriaannya. Ya, ia anak laki-laki yang jarang sekali menangis. Ia tak suka jika melihat siapapun menangis dihadapannya. 

Hingga satu hari, aku mendapat kabar Fahri jatuh sakit. Menurut dokter disebuah klinik, Fahri terkena thypus. Aku dan ibuku langsung pergi menengoknya. Kami melihat Fahri turun berat badannya. Ia terlihat lebih kurus dari sebelumnya ketika terakhir ia datang kerumahku. Bibirnya kering, pecah pecah, wajahnya pun pucat. Aku biasa membawakan jajanan untuk keponakanku ini. Dengan tersenyum aku selalu menyodorkan jajanan itu untuk Fahri makan. Dan ia selalu menyambutnya. Ia anak yang baik, anak yang tidak pernah mau merepotkan orang lain, termasuk orangtuanya. 

Satu minggu, dua minggu Fahri tak kunjung membaik. Bahkan tubuhnya semakin kurus, ia malah tak bisa berjalan. Keadaan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan membawa Fahri ke Rumah Sakit.  Fahri dibawa lagi ke klinik. Dan lagi-lagi Fahri dinyatakan Thypus. Tak berapa lama, ibunya mengatakan Fahri habis jatuh. Entah jatuh dimana dan kapan. Semakin lama, kaki Fahri membengkok kesamping, tak bisa diluruskan, untuk dudukpun ia tak bisa. Ya Tuhan, sungguh terpukul aku melihat anak laki-laki kesayanganku itu tak berdaya. Ibuku yang selalu menagis ketika kuajak ia datang menengok Fahri. 
Keadaan ekonomi orangtuanya yang tidak bisa membawa Fahri ke Rumah Sakit, akhirnya membawa ke Pengobatan Alternatif dibeberapa daerah. Namun hasilnya nihil. Fahri tidak kunjung membaik. Akhirnya, abangku, ayah Fahri berusaha meminjam uang kesana kemari untuk biaya membawa Fahri ke Rumah Sakit. Fahri dibawa ke salah satu Rumah Sakit Swasta di Pasir Gombong, Cikarang. Fahri dinyatakan terkena TBC Tulang. 4 hari ia rebah tak berdaya dirumah sakit. Karena biaya sudah habis, Fahri dipaksa untuk pulang. 
Sepulang dari rumah sakit tersebut, Fahri juga tak kunjung membaik. Badannya habis, tersisa kulit yang membalut tulangnya. Ya Tuhan, untuk memotretnya pun aku tak pernah tega. Orang tua Fahri membawa Fahri ke salah seorang dokter yang semenjak Fahri kecil biasa berobat kepada beliau. Dokter itu melihat kondisi Fahri, ia mengatakan Fahri sudah parah sehingga ia mengeluarkan surat rujukan ke salah satu Rumah Sakit Swasta di Tegal Gede, Cikarang. Disana, Fahri diperiksa. Terdeteksi ada tumor ganas yang sudah 80% memenuhi bagian perutnya. Tuhan begitu sayang kepada Mas Ai. Berbulan-bulan ia diberi sakit yang terus-menerus. Tapi ia tak pernah menangis. Ia tak pernah mau dianggap sebagai orang sakit. Tawanya, senyumnya selalu menempel di wajahnya. Dengan alis yang tebal, bulu-bulu halus yang begitu banyak ditubuhnya. Bibir imut dan dagu yang begitu manis. Ia terlihat begitu tampan.Ngangenin. Oh iya, ia sangat suka di foto. Sama denganku. Itu yang membuat kami begitu dekat.


Foto kami sebelum Fahri dibawa ke RSCM


Ekspresi wajah Mas Ai yang takkan terlupakan

Dari rumah sakit tersebut, Fahri kembali di rujuk ke RSCM. Tepatnya tanggal 17 bulan lalu, Fahri dibawa ke Rumah Sakit Besar dengan kelengkapan alatnya itu di Salemba. Aku meminta bantuan kepada komunitas Berbaginasi Cikarang, karena aku dan keluarga juga tidak memiliki banyak biaya untuk membantu Fahri. Alhamdulillah, dengan baik hati mereka membantu kami sampai saat ini. Beberapa donatur juga turut membantu Fahri. Mungkin hati mereka begitu terketuk melihat anak laki-laki kecil berusia 4 tahun ini terkulai lemas berbulan-bulan diatas tempat tidur. Selama Fahri dirawat di RSCM, ia dinyatakan terkena tumor Williams dan gizi buruk. Mungkin karena berbulan-bulan selama ia sakit, ia tak enak makan. Semakin hari, kami melihat perut Mas Ai yang semakin membesar. Aku semakin tak tega melihatnya. Berbaring dalam satu kamar besar bersama puluhan pasien kecil dengan penyakit-pemyakit yang juga parah. Ya Tuhan, selama aku menengoknya, tak henti aku berdoa, beristighfar, memohon penguatan untuk diriku yang sungguh tak tega melihat Fahri dan anak-anak kecil lainnya. Aku sempat mengobrol, bercanda dengan Mas Ai. Aku juga sempat berfoto-foto berdua. Walaupun tubuhnya lemas, matanya terlihat tersenyum di foto itu. Ia sangat tampan. Sangat tampan. 



Aku dan Mas Ai di ruang BCh RSCM


Ia tak pernah mengizinkan siapapun menangis didekatnya. Ia juga tak suka ditanya-tanya "apanya yang sakit?". Sungguh ku tau ia tak pernah mau menjadi beban banyak orang. Ia tak pernah menangis ketika jarum suntik menancap ditangannya. Ia diam saja, ia begitu kuat. Tubuh kecilnya benar benar luar biasa. Tak ada keluh yang terucap dari bibir imutnya itu. Sesekali ketika nafasnya mulai sesak, kadang ia menangis. Ia selalu memanggil ayahnya.. Bapak.. Mas Ai tak pernah mau jauh dengan ayahnya. Tidur, makan juga selalu ditemani ayahnya. 

Tuhan juga begitu sayang kepada abangku. Cobaan terus menerus dengan keadaan ekonominya yang sulit. Pekerjaan yang ditinggalkannya untuk menemani putra kesayangannya ini. Mas Ai seperti cetakan abangku. Wajahnya persis, tidak membuang sama sekali apapun. 

Mas Ai dengan ayah ibunya

Satu bulan dirawat di RSCM, Mas Ai mengalami collaps. Tak lama kondisinya kritis sehingga ia dibawa ke ICU RS MH Thamrin. Sekitar 5 jam ia berada di ICU, kondisinya tidak kunjung mendapat perubahan membaik. Pukul 23.00, aku mendapat kabar Mas Ai yang kembali kritis. Ayah, ibu, adik dan nenek ku dirumah terus berdoa untuk Fahri. Kami juga mengikhlaskan apapun yang terbaik yang Tuhan berikan kepada Mas Ai. 

Sekitar pukul 23.17 hari senin kemarin aku mendapat kabar Mas Ai sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Inalillahi wainaillahirojiun. Ibuku tak henti menjerit menangisi cucunya yang selama Mas Ai sakit ia selalu berkata, "kalo uda sembuh mau  bobo rumah nenek". Ucapan itu selalu terngiang ditelinga kami. Maafkan kami Mas Ai belum sempat menjemputmu untuk tidur dirumahku. Tuhan berkehendak lain. Tuhan sayang sekali dengan Mas Ai. Tuhan mau menjaga lelapmu lebih kasih dari kami. Tuhan mau memberimu tempat yang lebih indah dari ini. Tuhan ingin titipanNya kembali dalam dekapanNya.


Mas Ai.. ini aku kak Icha. 
Mas Ai, mungkin Allah begitu sayang sama Mas Ai. Ia tak mengizinkan Mas Ai tersiksa terlalu lama dengan selang-selang yang masuk kedalam tubuhmu. Allah tak mau tanganmu terus lecet terkena tancapan jarum suntik terus menerus. Allah mungkin juga tak tega melihat orangtua mu menjagamu was was setiap hari.

Mas Ai, begitu banyak foto kita berdua. Senyumnya Mas Ai selalu bikin aku kangen sama Mas Ai. 
Dari selasa minggu lalu, aku sudah sangat rindu kamu, Mas. Tapi aku beru sempat bertemu denganmu hari jumat kemarin. 
Jujur aku tak tega melihatmu seperti itu. Banyak selang ditubuhmu, Mas. Pasti sakit. Tapi Mas Ai gak pernah mengeluh. 

Mas inget gak, pas aku mau pulang aku tanya sama Mas Ai. "Mas, mau salam buat nenek?" , Mas Ai geleng-geleng bilang "nggak" , tapi Mas Ai ngeluarin air mata. Subhanallah. Mas Ai, aku tau kamu kangen nenek tapi kamu gak mau jadi beban pikiran siapapun.

Mas, aku kangen liat kamu pake jaket spiderman mu. Aku kangen liat senyummu mas. Aku kangen anggukan kamu kalo aku ajak foto bareng.
Tapi lihat kami Mas. Insya Allah kami ikhlas. Mas Ai main disana yang tenang ya. Doa kami selalu dikirim untuk Mas Ai.  

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai. Mas Ai selalu terkenang untuk kami. 
Usia mu baru 4 tahun, Mas. Tapi sifatmu selalu membuat kami takjub kepadamu. Banyak pelajaran yang kami dapat darimu, Mas. 

Mas Ai, aku sayang sama Mas Ai. Adik-adik kecilmu, dan seluruh keluarga sayang sama Mas Ai. 
Tidur yang nyenyak ya Mas Ai. Mainnya disana aja sama malaikat malaikat kecil yang lain. Yang sama baiknya sepertimu. 

Maafin aku ya Mas. Maafin nenek. Maafin kita belum bisa menjagammu dengan baik. 

Allah pasti memberimu tempat yang indah, Mas. Aku percaya, disana kamu pasti bisa jalan lagi, kamu bisa lari lagi. Perutmu gak akan sakit lagi , Mas.

Malam itu, kain kafan membalut seluruh tubuh Fahri. Aku tau pasti Mas Ai tersenyum didalamnya. 
Tangisku tak henti. Aku benar-benar terkenang dengan waktu-waktu yang pernah aku dan Fahri lalui bermain bersama. 
Doa-doa kami lantunkan untuk kepergian Fahri. Teman-teman, keluarga dan donatur yang membantu Fahri datang menemani jenazah sampai pagi pukul 08.00 Fahri dimakamkan.

Mas, kamu wangi sekali dengan balutan kain kafan itu. Mas jangan takut. Mas akan kembali sama Sang Pencipta.
Mas, terus tersenyum ya Mas. Bayangan senyuman kamu selalu menjadi penguat untuk kami, Mas. 
Banyak yang sayang sama Mas Ai. Pasti banyak doa yang ngiringin Mas Ai kembali kepada Tuhan. 



 

Mas Ai, tak ada apapun yang akan membuat aku lupa sama Mas Ai
Atas nama keluarga, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang telah membantu Fahri. Terimakasih kepada Berbaginasi Cikarang, Pak Herwin, Mba justsilly, Mba Irma dan seluruh komunitas yang telah membantu. Sekali lagi terimakasih banyak. 

Kita sudah berusaha tapi Tuhan tau mana yang terbaik. 
Semoga Tuhan tempatkan tempat yang begitu indah untuk malaikat kecil yang tampan ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar