Disetiap doaku pada Tuhan, aku selalu meminta untuk didekatkan kepadamu dengan cara yang baik, dijodohkan denganmu dengan cara yang baik dan meminta didekatkan keluarga kita juga dengan cara yang baik. Tuhan menjawab semua doaku. Tuhan memang memberi yang baik tidak selalu dengan cara yang menyenangkan. Ketika kini aku jauh darimu, tanpa kabar darimu.. inilah jawaban doaku pada Tuhan. Tuhan mendekatkan ku denganmu dengan cara yang begitu baik, melalui doa. Karena sesungguhnya aku menyayangimu karena Allah. Subhanallah.. Begitu banyak dosa yang ku perbuat tapi Tuhan selalu mendengar setiap lirihnya doa-doaku. Sehingga Tuhan buat aku tak ingin melewatkan satu kali saja doaku untukmu dan untuk orang-orang yang kusayangi. Jodoh memang ditangan Tuhan. Tapi Tuhan Maha Pengasih. Ia tak segan memberi apa yang diminta umatnya. Aku meminta pada Tuhan supaya kelak kau dijadikan imam yang baik untukku dan anak-anak kita. Aku percaya Tuhan mendengarnya. Kita bersama, tapi jarak tak harus dekat. Seperti ini pun kita tetap bersama, sama-sama saling mendoakan. Kesabaran, keikhlasan kelak akan menjadi airmata yang bahagia. Insya Allah. Meski tak selalu tahu tentang keadaanmu, aku yakin Tuhan menjagamu dari apa-apa yang buruk, dari segala khilaf. Aku percaya kelak Tuhan mendengar itu. Kini aku bukan lagi aku yang akan selalu tau bagaimana tentangmu, tapi aku kini aku yang sedang berusaha menjadi yang terbaik dimata Tuhan. Karena setiap wanita sama, yang membedakan hanyalah ketaatan pada Tuhan. Suatu saat jika aku sudah menjadi wanita yang baik akhlak dan perilakunya, bukan cuma Tuhan tapi kau juga pasti akan melihatnya. Tak perlu aku khawatir kehilanganmu. Karena goresan garis hidupku telah diukir oleh Yang Maha Kuasa. Jika kau bukan jodohku, berarti memang bukan aku yang kelak mampu melengkapi ibadahmu pada Tuhan.
Jumat, 25 Juli 2014
Selasa, 22 Juli 2014
Rindu, Mengubah Satu Menjadi Ribu
Rindu dipicu karena adanya rasa yang berlabuh dalam kalbu, ia tak pernah jemu malah terus menggebu mengubah satu menjadi ribu, berlari terpacu menuju kelu ia terus membeku kaku terpaku bisu dalam kalbu. Ia sungguh batu tak mau tahu berapa kalbu yang teradu, betapa pilu yang mengaduh, betapa gaduh yang termadu. Rindu tersandung jatuh pada satu labuh yang tabu, belum tentu mau bersama berpacu dalam satu jalur rindu, hanya menjadi palu yang memukul tulang rusukmu. Rinduku lumpuh pada malu mengejar restu pada satu kalbu yang gagu. Ia terus diam membisu tak pernah mau sedikit saja beradu menyentuh keluh yang terujar pilu. Sudah. Kini biar rindu menjadi beku. Rindu yang semula sejuk menjadi remuk. Satu bentuk menjadi rapuh. Mengubah kembali satu menjadi ribu. Biar ku usung semua rindu, kembali pada kalbu yang berlabuh satu, tetap pada diriku. Biar kami bersama bisu, tanpa siapapun harus tahu. Bahkan tak perlu siapapun mau.
Senin, 14 Juli 2014
Sudah Pernah Ku Tertatih
Benar tentang berserah. Benar tentang diam lebih baik daripada bicara. Benar tentang tidak terlalu berharap. Tuhan secara tidak langsung selalu mengajarkan itu. Sekarang kembalilah aku pada keadaan dan jalannya diriku. Bersimpuh berserah berdoa padaNya. Entah tentangmu atau tentang keberserahanku padaNya. Biarlah lirih ku berbicara pada Tuhan jika memang engkau tak lagi mau mendengar. Biarlah ku mengangkat tangan ini pada Tuhan jika memang usaha tak mampu berjalan. Aku sepertinya memang sudah tercipta dari cerminan masalalu. Beralas pada keterpurukan hidupku sebelumnya. Ya, sudah pernah ku perhitungkan adanya kesakitan ini. Sudah pernah ku perhitungkan kejatuhanku kesekian kalinya. Bodohlah manusia yang memang berkali melakukan kesalahan terbesar didunia. Jangan pernah tanyakan yang terjadi berikutnya. Sama persis bodohnya. Sama persis perihnya. Sama persis berkalinya. Cukuplah aku mengerti tentang segala kicauan hidupku. Cukuplah aku yang tahu persis mengapa aku. Cukuplah aku merasakan bagaimana aku setelah ini. Bukan kebaikan yang pernah tertanam maka bukanlah kebaikan juga yang akan datang pada keadaanku. Sudah pernah kusendiri. Bahkan sudah pernah ku tertatih. Sudah pernah seperti ini. Inginnya terucap 'biasa'. Tapi perihnya yang tidak biasa. Pernah juga aku tak percaya. Pernah aku begitu bersemangat. Pernah aku terpatahkan lagi oleh keadaan. Dan kini lagi kurasa. Patah itu bukan hanya serat yang hampir putus tapi sudah putus terbelah menjadi dua sisi. Sisi yang lebih banyak ada padaku adalah sisi semakin dalamnya ingatanku pada hidup-hidupku. Hidup yang menjadikan aku. Tentang kesalahan yang sedang berlalu. Tentang perilaku pembawa keputusan hidupku. Tentang sebagaimana besar kehancuran hidup yang berjalan 'pada' aku. Tak perlu siapapun mengerti tentang itu. Karena setiuap perhitungan sudah kutulis adanya. Sudah kusembunyikan rapat pada harianku. Sudah biarkan kuabaikan meski akan terhitung nantinya. Tak ada yang perlu mengerti. Cukup aku yang harus menguatkan sendiri. Tentang bagaimana waktu pada pribadi. Tentang bagaimana waktu pada diri. Terimakasih tentang ketulusan. Terimakasih untuk ketidakbalasan terhadapnya. Terimakasih pernah ada menguatkan.;
Siapa Ia?
Siapalah ia, pengganggu disetiap tidurmu, keresahan disetiap hidupmu, bahkan penghalang disetiap langkahmu. Siapalah ia, sang pembawa kekecewaan, keegoisan. Tendang saja ia jika kau ingin. Tamparan mungkin sudah kebal dihadapkan kepadanya. Tendanglah sekencang sesukamu, injaklah ia yang mungkin sudah menginjak harga dirimu. Tuhan pasti ada padamu. Tuhan lebih sayang pada hatimu. Tak usah pedulikan apa-apa tentangnya. Biar ia jatuh terpuruk, terinjak bersama kotoran-kotoran dunia lainnya. Siapalah ia bagimu? Perusak akhlakmu, perusak ketaatanmu, penghancur masamu. Buanglah saja ia seperti kau membuang sampah dihidupmu. Biarkan ia bergabung dengan ketidakbergunaan lainnya. Hidupmu terlalu indah untuk ia rusak karena keberadaannya. Nyatanya kau bahagia tanpa sampah itu. Berdirilah bersanding dengan keindahan yang lainnya. Yang juga mampu mengindahkan hidupmu, bukan mengganggumu. Yang pasti mampu kau dukung kesetiaannya.
Kepada aku..
Kadang mentari enggan menyinari sosok gelap diri ini
Kadang rembulan enggan mengindahkan redupnya hati ini
Kadang memang waktu enggan bersisi kepada keadaanku ini
Aku biarlah aku kepada aku
Biarlah waktu kepada aku
Biarlah perih kepada aku
Aku keegoisan
Aku si pembuat kecewa
Aku perasuk masalalu
Waktu memang selalu tepat
Beradu keegoisan penat
Beradu kemarahan sangat
Kebencian tersemat
Aku biarlah kepada aku
Sang kekalahan
Sang kelemahan
Sang keburukan
Hidupku kepada aku
Tentang masalalu aku
Tentang cerminan diriku
Tak ada sempurna menghadap kepadaku
Kadang rembulan enggan mengindahkan redupnya hati ini
Kadang memang waktu enggan bersisi kepada keadaanku ini
Aku biarlah aku kepada aku
Biarlah waktu kepada aku
Biarlah perih kepada aku
Aku keegoisan
Aku si pembuat kecewa
Aku perasuk masalalu
Waktu memang selalu tepat
Beradu keegoisan penat
Beradu kemarahan sangat
Kebencian tersemat
Aku biarlah kepada aku
Sang kekalahan
Sang kelemahan
Sang keburukan
Hidupku kepada aku
Tentang masalalu aku
Tentang cerminan diriku
Tak ada sempurna menghadap kepadaku
Langganan:
Postingan (Atom)