Senin, 14 Juli 2014

Sudah Pernah Ku Tertatih

Benar tentang berserah. Benar tentang diam lebih baik daripada bicara. Benar tentang tidak terlalu berharap. Tuhan secara tidak langsung selalu mengajarkan itu. Sekarang kembalilah aku pada keadaan dan jalannya diriku. Bersimpuh berserah berdoa padaNya. Entah tentangmu atau tentang keberserahanku padaNya. Biarlah lirih ku berbicara pada Tuhan jika memang engkau tak lagi mau mendengar. Biarlah ku mengangkat tangan ini pada Tuhan jika memang usaha tak mampu berjalan. Aku sepertinya memang sudah tercipta dari cerminan masalalu. Beralas pada keterpurukan hidupku sebelumnya. Ya, sudah pernah ku perhitungkan adanya kesakitan ini. Sudah pernah ku perhitungkan kejatuhanku kesekian kalinya. Bodohlah manusia yang memang berkali melakukan kesalahan terbesar didunia. Jangan pernah tanyakan yang terjadi berikutnya. Sama persis bodohnya. Sama persis perihnya. Sama persis berkalinya. Cukuplah aku mengerti tentang segala kicauan hidupku. Cukuplah aku yang tahu persis mengapa aku. Cukuplah aku merasakan bagaimana aku setelah ini. Bukan  kebaikan yang pernah tertanam maka bukanlah kebaikan juga yang akan datang pada keadaanku. Sudah pernah kusendiri. Bahkan sudah pernah ku tertatih. Sudah pernah seperti ini. Inginnya terucap 'biasa'. Tapi perihnya yang tidak biasa. Pernah juga aku tak percaya. Pernah aku begitu bersemangat. Pernah aku terpatahkan lagi oleh keadaan. Dan kini lagi kurasa. Patah itu bukan hanya serat yang hampir putus tapi sudah putus terbelah menjadi dua sisi. Sisi yang lebih banyak ada padaku adalah sisi semakin dalamnya ingatanku pada hidup-hidupku. Hidup yang menjadikan aku. Tentang kesalahan yang sedang berlalu. Tentang perilaku pembawa keputusan hidupku. Tentang sebagaimana besar kehancuran hidup yang berjalan 'pada' aku. Tak perlu siapapun mengerti tentang itu. Karena setiuap perhitungan sudah kutulis adanya. Sudah kusembunyikan rapat pada harianku. Sudah biarkan kuabaikan meski akan terhitung nantinya. Tak ada yang perlu mengerti. Cukup aku yang harus menguatkan sendiri. Tentang bagaimana waktu pada pribadi. Tentang bagaimana waktu pada diri. Terimakasih tentang ketulusan. Terimakasih untuk ketidakbalasan terhadapnya. Terimakasih pernah ada menguatkan.;

Tidak ada komentar:

Posting Komentar