Aku tak pandai lagi menghitung waktu sejak kepergianmu
Yang ku ingat hanya kenangan kita saat melewatinya.
Aku Sang Pelupa
Tapi untuk kita, aku bukan.
Rabu, 20 Januari 2016
Selasa, 19 Januari 2016
B I A R
Aku sudah tidak ingin tau tentang kebahagiaan
Aku sudah tidak ingin tau tentang cinta
Biar ku mengabdi pada pengorbananku saja
Biar ku setia pada penantian..
Aku sudah tidak ingin tau tentang cinta
Biar ku mengabdi pada pengorbananku saja
Biar ku setia pada penantian..
Senin, 11 Januari 2016
Ini Alusa..
S E P A T U
Tak perlu ajari aku menahan beban yang berat
Seberapapun beban itu aku harus tetap menanggungnya
Sembari aku berjalan bahkan melompat atau berlari
Kau tak kan peduli
Sudah berapa jauh aku menemanimu
Kau tak akan ingat
Seberapa lama aku bertahan untukmu
Terik, hujan, siang dan malam
Aku tak pernah tau
Yang aku tau hanya pergi bersamamu
Kemana kau mau
Tapi kadang aku pernah membuatmu tergores
Aku pernah membuatmu terluka
Bahkan aku juga pernah membuatmu enggan denganku..
Anggaplah aku sebagai teman hidupmu
Biar aku tak sempurna setidaknya aku pernah selalu menemanimu
Di waktu yang lama..
Aku juga pernah menjagamu
Dari debu diluar sana..
Seberapapun beban itu aku harus tetap menanggungnya
Sembari aku berjalan bahkan melompat atau berlari
Kau tak kan peduli
Sudah berapa jauh aku menemanimu
Kau tak akan ingat
Seberapa lama aku bertahan untukmu
Terik, hujan, siang dan malam
Aku tak pernah tau
Yang aku tau hanya pergi bersamamu
Kemana kau mau
Tapi kadang aku pernah membuatmu tergores
Aku pernah membuatmu terluka
Bahkan aku juga pernah membuatmu enggan denganku..
Anggaplah aku sebagai teman hidupmu
Biar aku tak sempurna setidaknya aku pernah selalu menemanimu
Di waktu yang lama..
Aku juga pernah menjagamu
Dari debu diluar sana..
Kamis, 07 Januari 2016
- A L U S A - Part II
Pada bab ini aku akan menceritakan tentang Alusa. Anggap saja bab lalu hanya sisi keromantisanku. Bab ini aku kan coba mengulang kembali bayanganku tentang Alusa.
Bagaimana parasnya, bagaimana tubuhnya, bagaimana santunnya dan bagaimana menariknya ia.
Aku masih bisa mengingat betul setiap detil dari pribadinya. Setiap inchi dari tubuhnya.
Alusa.. Si pria tampan. Parasnya menarik jika engkau memandangnya lebih dalam.
Alusa, aku ingat wajahnya. Akan ku gambarkan.
Bentuk dahinya yang tegas, alis matanya yang tebal. Alusa si pemilik mata sayu dengan lentik bulu matanya.
Alusa dengan tulang hidungnya yang mancung meski sedikit bengkok. Ya, bekas luka masa kecilnya.
Alusa, bibirnya yang tipis agak lebar. Kumis tipisnya yang sempat selalu ku tata.
Tahi lalat ada di sebelah kanan dekat hidung dan diatas bibirnya tepat di sela kumis tipisnya.
Alusa juga miliki telinga yang biasa orang sebut 'agak caplang'.
Laki laki ini kulitnya putih, bersih tidak dekil seperti kebanyakan. Tubuhnya tinggi, kurus. Sekitar 30 centi diatas tinggiku.
Ada sedikit tanda lahir di tangan kirinya. Diatas punggung tangannya. Aku sering menyentuhnya. Sekadar ingin merasa hangat tubuhnya.
Usianya berjarak tidak jauh dari usiaku. Ia masih muda, masih panjang sekali masa depannya.
Alusa, pemilik suara merdu yang tinggi. Kala ia bernyanyi, senang ku dengar.
Ia suka menyamai rupanya dengan Duta SO7. Ya, ia memang lucu. Kadang ia sering sekali bergelagat macam aktris.
Alusa, si kurus yang lumayan atletik bentuk badannya. Si kurus yang tampan.
Ia pandai bermusik. Belakangan sebelum hilang dari mimpiku, ia sedang rajin menekuni lagu-lagu Payung Teduh.
Alusa.. aroma tubuh yang sama setiap aku menciumnya. Aroma yang sama disetiap apapun yang ia kenakan. Duh, aku rindu betul wangi itu.
Wangi dari parfum warna merah yang selalu kita beli bersama.
Oh Alusa.. aku hafal betul sedemikian rupamu. Aku hafal betul sedemikian kekuranganmu.
Alusa..
Nama ini ku beri setelah ia pergi. Nama dari sebuah kepanjangan yang sering ku nyatakan padanya. Tapi kali ini biar aku yang tahu.
Nama ini begitu indah, menurutku.
Ingin sekali ku gambarkan lewat sketsa wajah tentang rupanya. Tapi tangan ini masih bergetar, bayangnya belum mau pergi. Konsentrasiku terganggu. Jangankan untuk menorehkan wajahnya diatas kertas. Kadang mengingat-ingat tentangnya saja aku sudah terus termenung.
Nanti setelah aku mampu mencoreh rupanya diatas kertas. Pasti akan ku sertakan gambaranku disini, pada bab ini.
Alusa, santunnya ketika ia berbicara dengan nada yang rendah, yang lembut. Tapi ketika ia marah, mata sayunya seakan memerah.
Ia selalu pergi dari mimpiku setiap malam dengan salam. Tiada malam ia tinggalkan tanpa salam.
Dia unik, pasangan yang unik. Dia tak sepertiku yang pelupa. Dia bisa kusebut pengingatku.
Dia laki-laki yang sangat rapih. Apapun yang ia miliki ia simpan rapih. Kadang didalam lemari. Mungkin dulu namaku juga pernah ia catat rapih dalam hatinya.
Alusa.. awal ku bertemu dengan sosoknya. Ia miliki rambut yang panjang untuk ukuran laki-laki. Dia lucu dan tampan sekali.
Dulu dia pendiam, tak banyak bicara. Tapi waktu dan mungkin aku, merubahnya.
Beberapa waktu sebelum ia pergi dari mimpiku, ia sempat menjadi pribadi yang begitu riang yang tak bisa diam.
Dia terlalu suka bercanda, bergurau.
Dia kadang bernyanyi, berteriak sesuka hatinya. Tapi kadang dia juga ga nyambung. Hahahaha..
Alusa..
Si rupawan itu tak mudah hilang dari angan.
Hmm, biar ku terka. Bukan ia yang tak bisa hilang dari angan tapi memang aku saja yang tidak mau menghilangkannya.
Biarlah Alusa selamanya menjadi rupawan dalam mimpiku.
Biar saja bayangan alisnya, matanya dan hidungnya selalu ada di depan mataku. Biar dan tak akan sirna.
Biar Alusa menjadi Pangeran tanah sunda rupawan yang sempat aku kenal...
Bagaimana parasnya, bagaimana tubuhnya, bagaimana santunnya dan bagaimana menariknya ia.
Aku masih bisa mengingat betul setiap detil dari pribadinya. Setiap inchi dari tubuhnya.
Alusa.. Si pria tampan. Parasnya menarik jika engkau memandangnya lebih dalam.
Alusa, aku ingat wajahnya. Akan ku gambarkan.
Bentuk dahinya yang tegas, alis matanya yang tebal. Alusa si pemilik mata sayu dengan lentik bulu matanya.
Alusa dengan tulang hidungnya yang mancung meski sedikit bengkok. Ya, bekas luka masa kecilnya.
Alusa, bibirnya yang tipis agak lebar. Kumis tipisnya yang sempat selalu ku tata.
Tahi lalat ada di sebelah kanan dekat hidung dan diatas bibirnya tepat di sela kumis tipisnya.
Alusa juga miliki telinga yang biasa orang sebut 'agak caplang'.
Laki laki ini kulitnya putih, bersih tidak dekil seperti kebanyakan. Tubuhnya tinggi, kurus. Sekitar 30 centi diatas tinggiku.
Ada sedikit tanda lahir di tangan kirinya. Diatas punggung tangannya. Aku sering menyentuhnya. Sekadar ingin merasa hangat tubuhnya.
Usianya berjarak tidak jauh dari usiaku. Ia masih muda, masih panjang sekali masa depannya.
Alusa, pemilik suara merdu yang tinggi. Kala ia bernyanyi, senang ku dengar.
Ia suka menyamai rupanya dengan Duta SO7. Ya, ia memang lucu. Kadang ia sering sekali bergelagat macam aktris.
Alusa, si kurus yang lumayan atletik bentuk badannya. Si kurus yang tampan.
Ia pandai bermusik. Belakangan sebelum hilang dari mimpiku, ia sedang rajin menekuni lagu-lagu Payung Teduh.
Alusa.. aroma tubuh yang sama setiap aku menciumnya. Aroma yang sama disetiap apapun yang ia kenakan. Duh, aku rindu betul wangi itu.
Wangi dari parfum warna merah yang selalu kita beli bersama.
Oh Alusa.. aku hafal betul sedemikian rupamu. Aku hafal betul sedemikian kekuranganmu.
Alusa..
Nama ini ku beri setelah ia pergi. Nama dari sebuah kepanjangan yang sering ku nyatakan padanya. Tapi kali ini biar aku yang tahu.
Nama ini begitu indah, menurutku.
Ingin sekali ku gambarkan lewat sketsa wajah tentang rupanya. Tapi tangan ini masih bergetar, bayangnya belum mau pergi. Konsentrasiku terganggu. Jangankan untuk menorehkan wajahnya diatas kertas. Kadang mengingat-ingat tentangnya saja aku sudah terus termenung.
Nanti setelah aku mampu mencoreh rupanya diatas kertas. Pasti akan ku sertakan gambaranku disini, pada bab ini.
Alusa, santunnya ketika ia berbicara dengan nada yang rendah, yang lembut. Tapi ketika ia marah, mata sayunya seakan memerah.
Ia selalu pergi dari mimpiku setiap malam dengan salam. Tiada malam ia tinggalkan tanpa salam.
Dia unik, pasangan yang unik. Dia tak sepertiku yang pelupa. Dia bisa kusebut pengingatku.
Dia laki-laki yang sangat rapih. Apapun yang ia miliki ia simpan rapih. Kadang didalam lemari. Mungkin dulu namaku juga pernah ia catat rapih dalam hatinya.
Alusa.. awal ku bertemu dengan sosoknya. Ia miliki rambut yang panjang untuk ukuran laki-laki. Dia lucu dan tampan sekali.
Dulu dia pendiam, tak banyak bicara. Tapi waktu dan mungkin aku, merubahnya.
Beberapa waktu sebelum ia pergi dari mimpiku, ia sempat menjadi pribadi yang begitu riang yang tak bisa diam.
Dia terlalu suka bercanda, bergurau.
Dia kadang bernyanyi, berteriak sesuka hatinya. Tapi kadang dia juga ga nyambung. Hahahaha..
Alusa..
Si rupawan itu tak mudah hilang dari angan.
Hmm, biar ku terka. Bukan ia yang tak bisa hilang dari angan tapi memang aku saja yang tidak mau menghilangkannya.
Biarlah Alusa selamanya menjadi rupawan dalam mimpiku.
Biar saja bayangan alisnya, matanya dan hidungnya selalu ada di depan mataku. Biar dan tak akan sirna.
Biar Alusa menjadi Pangeran tanah sunda rupawan yang sempat aku kenal...
Rabu, 06 Januari 2016
- A L U S A - Part I
Hanya cerita yang ku rangkai entah fiksi entah nyata..
Delisha..
Perempuan ayu namun tak seperti bidadari
Perempuan manis hampir seperti putri
Hanya saja tingkahnya bagai lelaki
Delisha..
Banyak menghabiskan hidupnya dengan senyuman
Banyak terkenang tawa dari bibirnya
Gelagat dan gurauannya
Tak mudah dilupa
Delisha..
Suaranya bagai sepuluh wanita
Ramai terdengar
Setiap celotehnya
Delisha..
Didekatnya,
Ia mampu merubah sedih menjadi tawa
Ia mampu mengurai luka menjadi bahagia
Hingga satu hari..
Delisha..
Yang telah diambil hatinya
Oleh pangeran tanah sunda rupawan
Delisha..
Ia jatuh cinta
Ia jatuh hati
Dalam dekap manis sang pangeran
Sang Pangeran..
Ku sebut saja ia, Alusa
Alusa, rupawan dari tanah sunda
Pergi merantau ke tanah lainnya
Hingga bertemu Delisha dengan Alusa
Pertemuan pertama tanpa bicara
Pertemuan berikutnya,
Delisha menyimpan suka
Pada hati Alusa
Yang tentu tidak sedia
Delisha..
Putri itu terus saja masuk
Kedalam alunan asmara
Yang belum tentu sirna
Terus saja waktu merasuk
Bersama cinta dan setia
Pernah Alusa mendustai
Delisha tetap mencintai
Direngkuhnya hari demi hari
Yang Delisha miliki
Bersama dalam alunan gelak tawa
Menyeringai membara cukup lama
Delisha..
Kasih sayang yang dalam
Dengan segala kesetiaan
Menemani sang Pangeran
Dikala jatuh hingga terluka
Delisha tak pernah mau pergi..
Ia tetap hati..
Untuk mencintai..
Tapi perlahan..
Alusa pergi dari pandangan
Ia menjauh dari jangkauan
Alusa..
Ia meninggalkan..
Hati yang terlalu setia padanya
Sayang, Delisha
Ia seperti bisu
Tak lagi mau bicara
Gelak tubuhnya kaku
Ia malu..
Pada waktu..
Yang menjadi saksi bisu
Mereka pernah SATU..
Berganti Luka..
Lemah..
Dibalik ku pernah ceria
Pernah juga ku simpan luka
Lama dalam ceria
Sempat kurasa luka
Lalu kau ada..
Hilang segala luka
Pernah dalam ceria
Ku balut luka yang dalam
Tak perlu semua tau
Cukup aku yang mampu
Menyembunyikan dalam senyuman
Kini..
Ku sudahi ceria
Sudah ia berganti luka
Semua tak perlu tau
Seberapa luka
Biar aku yang rasa
Seberapa ampuh luka
Membunuh daya
Sudahi..
Aku tak mampu
Sudah..
Aku malu
Bahagia diatas kelu
Dibalik ku pernah ceria
Pernah juga ku simpan luka
Lama dalam ceria
Sempat kurasa luka
Lalu kau ada..
Hilang segala luka
Pernah dalam ceria
Ku balut luka yang dalam
Tak perlu semua tau
Cukup aku yang mampu
Menyembunyikan dalam senyuman
Kini..
Ku sudahi ceria
Sudah ia berganti luka
Semua tak perlu tau
Seberapa luka
Biar aku yang rasa
Seberapa ampuh luka
Membunuh daya
Sudahi..
Aku tak mampu
Sudah..
Aku malu
Bahagia diatas kelu
Langganan:
Postingan (Atom)