Pada bab ini aku akan menceritakan tentang Alusa. Anggap saja bab lalu hanya sisi keromantisanku. Bab ini aku kan coba mengulang kembali bayanganku tentang Alusa.
Bagaimana parasnya, bagaimana tubuhnya, bagaimana santunnya dan bagaimana menariknya ia.
Aku masih bisa mengingat betul setiap detil dari pribadinya. Setiap inchi dari tubuhnya.
Alusa.. Si pria tampan. Parasnya menarik jika engkau memandangnya lebih dalam.
Alusa, aku ingat wajahnya. Akan ku gambarkan.
Bentuk dahinya yang tegas, alis matanya yang tebal. Alusa si pemilik mata sayu dengan lentik bulu matanya.
Alusa dengan tulang hidungnya yang mancung meski sedikit bengkok. Ya, bekas luka masa kecilnya.
Alusa, bibirnya yang tipis agak lebar. Kumis tipisnya yang sempat selalu ku tata.
Tahi lalat ada di sebelah kanan dekat hidung dan diatas bibirnya tepat di sela kumis tipisnya.
Alusa juga miliki telinga yang biasa orang sebut 'agak caplang'.
Laki laki ini kulitnya putih, bersih tidak dekil seperti kebanyakan. Tubuhnya tinggi, kurus. Sekitar 30 centi diatas tinggiku.
Ada sedikit tanda lahir di tangan kirinya. Diatas punggung tangannya. Aku sering menyentuhnya. Sekadar ingin merasa hangat tubuhnya.
Usianya berjarak tidak jauh dari usiaku. Ia masih muda, masih panjang sekali masa depannya.
Alusa, pemilik suara merdu yang tinggi. Kala ia bernyanyi, senang ku dengar.
Ia suka menyamai rupanya dengan Duta SO7. Ya, ia memang lucu. Kadang ia sering sekali bergelagat macam aktris.
Alusa, si kurus yang lumayan atletik bentuk badannya. Si kurus yang tampan.
Ia pandai bermusik. Belakangan sebelum hilang dari mimpiku, ia sedang rajin menekuni lagu-lagu Payung Teduh.
Alusa.. aroma tubuh yang sama setiap aku menciumnya. Aroma yang sama disetiap apapun yang ia kenakan. Duh, aku rindu betul wangi itu.
Wangi dari parfum warna merah yang selalu kita beli bersama.
Oh Alusa.. aku hafal betul sedemikian rupamu. Aku hafal betul sedemikian kekuranganmu.
Alusa..
Nama ini ku beri setelah ia pergi. Nama dari sebuah kepanjangan yang sering ku nyatakan padanya. Tapi kali ini biar aku yang tahu.
Nama ini begitu indah, menurutku.
Ingin sekali ku gambarkan lewat sketsa wajah tentang rupanya. Tapi tangan ini masih bergetar, bayangnya belum mau pergi. Konsentrasiku terganggu. Jangankan untuk menorehkan wajahnya diatas kertas. Kadang mengingat-ingat tentangnya saja aku sudah terus termenung.
Nanti setelah aku mampu mencoreh rupanya diatas kertas. Pasti akan ku sertakan gambaranku disini, pada bab ini.
Alusa, santunnya ketika ia berbicara dengan nada yang rendah, yang lembut. Tapi ketika ia marah, mata sayunya seakan memerah.
Ia selalu pergi dari mimpiku setiap malam dengan salam. Tiada malam ia tinggalkan tanpa salam.
Dia unik, pasangan yang unik. Dia tak sepertiku yang pelupa. Dia bisa kusebut pengingatku.
Dia laki-laki yang sangat rapih. Apapun yang ia miliki ia simpan rapih. Kadang didalam lemari. Mungkin dulu namaku juga pernah ia catat rapih dalam hatinya.
Alusa.. awal ku bertemu dengan sosoknya. Ia miliki rambut yang panjang untuk ukuran laki-laki. Dia lucu dan tampan sekali.
Dulu dia pendiam, tak banyak bicara. Tapi waktu dan mungkin aku, merubahnya.
Beberapa waktu sebelum ia pergi dari mimpiku, ia sempat menjadi pribadi yang begitu riang yang tak bisa diam.
Dia terlalu suka bercanda, bergurau.
Dia kadang bernyanyi, berteriak sesuka hatinya. Tapi kadang dia juga ga nyambung. Hahahaha..
Alusa..
Si rupawan itu tak mudah hilang dari angan.
Hmm, biar ku terka. Bukan ia yang tak bisa hilang dari angan tapi memang aku saja yang tidak mau menghilangkannya.
Biarlah Alusa selamanya menjadi rupawan dalam mimpiku.
Biar saja bayangan alisnya, matanya dan hidungnya selalu ada di depan mataku. Biar dan tak akan sirna.
Biar Alusa menjadi Pangeran tanah sunda rupawan yang sempat aku kenal...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar