Selasa, 26 Agustus 2014

Izinkan aku..

Kita akan mampu berjalan
Meski dibawah reruntuhan
Kita akan mampu berjalan
Meski diatas karang
Kita akan mampu berjalan
Meski tenggelam dalam samudra

Kita bersama,
Bukan cuma berdua
Tapi juga bersama asa
Dalam setiap doa

Menentang rembulan dalam ribuan malam
Menentang panas di ribuan siang
Kita lengkapi bersama

Amarah, kecewa dan airmata
Kita mampu duduk bersama
Tetap dalam satu harapan

Menantang segala uji dunia
Menjadi kekuatan doa pada Tuhan

Izinkan aku menjadi nama yang tertulis dalam buku nikahmu
Izinkan aku menjadi nama yang terucap dalam ijab kabulmu
Izinkan aku menjadi bagian dari Ibadahmu pada Tuhan..

Jalan

Merangkai setiap sajak
Aku bersamamu
Memulai dari satu mili
Hingga ratusan centi
Aku didekatmu 
Disampingmu
Merekuh sekian cara pahamimu
Tidak hanya butuh waktu 
Tapi juga batu
Kerasnya kekukuhan
Kuatnya pertahanan
Bersama,
Bukan hanya berdua
Memegang aku dalam jalan pastimu
Dalam kemantapan hatimu
Meniti mili yang puluhan
Menjadi centi
Bergerak hingga ratusan
Jatuh,
Tapi diam
Jatuh,
Lantas terbangun
Jatuh,
Lantas berlari 
Tetap pada satu perjuangan
Pada satu lintas doa..

Biar Rindu Bicara

Aku merasa kini semua begitu sederhana
Cara memilikimu, cara menyayangimu dan cara memelukmu
Sesederhana aku percaya akan semua harapan dalam doa kita

Kesempatan tak lagi seperti dulu
Waktu demi waktu mampu ku melihatmu
Kini sesederhana jarak puluhan kilometer mengantara


Biarkan rindu bicara..
Tentang semua wujudnya
Tentang bagaimana rupanya


Biar kita bersama meraba
Detik demi detik rasa
Terpacu asa..

Senin, 25 Agustus 2014

Penghujung Syahdu

Rindu...
Pernahkah kau tau seberapa cepat kau menggebu?
Pernahkah kau rasa seberapa sulit kau ku sapu?

Dipucuk kalbu
Kau merangkul
Dari kata hingga asa
Merubah ketenangan rasa...

Lalu...
Sampailah aku
Di depan rindu,
Penghujung syahdu

Rindu bergelut
Berebut menyahut
Hingga demikian ribut
Menyulut membara dalam kalbu

Ku sampaikan
Sedemikian indahnya rindu
Ku melodikan syahdu...

Bergetar ia memakan ragu
ku nikmati bersama irama detak jantung

Wahai engkau sang pemilik hati penghujung syahdu
Ku nantikan pimpinan rindu melabuhkan satu
Segala yang pernah menjadi lagu...

Jumat, 22 Agustus 2014

Biarkan Kami Menggenggam Ibadah Kami

Terbit matahari hingga rembulan bersinar
Bersimpuh bersujud diatas sajadah
Terbalut ketenangan jiwa
Doa ku panjatkan


Terimakasih Tuhan,
Untuk segala doa-doa yang Kau dengar
Untuk segala doa-doa yang Kau kabulkan


Segala rizki dan ridho-Mu yang kami cari
Meski jarak terbentang kini
Tapi Kau janjikan masa depan untuk kami


Tuhan,
Kuatkan setiap diri
Kuatkan dua hati


Hingga saatnya nanti
Kami genggam Ibadah kami
Dalam satu ikatan suci



Sabtu, 09 Agustus 2014

Sudah!

Aku malas bermain dengan hati. Baru saja pasti nyatanya mau pergi. Hati ku malah sungkan ingin marah. Padahal nyatanya aku marah. Aku sudah malas mengajak hati ikut jatuh dalam pilihanku. Aku sudah malas menata hati yang terurai mengacak. Capek. Tiap kali berantakan, di tata tapi ga ada juga yang menghargai. Maunya sudah dengan satu hati. Yang mantap bermasadepan berdiri. Tak usah lagi menukar hati. Ini saja sudah lebih. Sudah seperti banyak awan, indah. Kesabaran lama-lama sudah menjadi 'nasi'. Enak dan biasa dimakan. Tak usah lagi bicara soal kesabaran. Pribadiku sudah tidak mengacu pada keegoisan. Sudahlah. Yang aku butuh hanya keseriusan, hargai hati yang ini. Yang sudah lama bercengkrama dengan hatimu. Yang sudah lama berlari bersama, berkeringat bahkan terjungkal bersama. Apalagi memang yang kau butuhkan? Cantik rupa? Rambut indah? Aku juga punya, dibalik kerudungku! Sudah kesal terus marah. Lapar jadinya. Jangan sampai kumakan lagi api cemburu yang lantas membuatku berenergi untuk marah. Memangnya kamu gak bosan aku kirimi pesan ribuan huruf? Lagian. Sudah tua. Bukan abege lagi. Fokus saja pada masadepanmu, tak usah banyak ikuti tikungan berliku. Toh kasih sayangku jauh lebih besar dari amarahku. Doaku masih terus ada untukmu. Kuatkan!

Mencekik Merah Pilu Membentak

Rasanya mencekik dalam hati. Tampak merah seperti amarah. Dia pilu lama-lama layu. Dia tersentak bak hati membentak. Seakan terkupas mengelupas hampir tuntas. Persis seperti diri yang belum dihargai. Ia menuntut menggelut. Bukan meminta tapi menyita. Kepercayaannya memudar.

Kamis, 07 Agustus 2014

Biar Tuhan Mengeratkan Dua Hati Menjadi Ibadah Yang Suci

Airmata yang sudah memantapkan hati untuk diam disini tanpa mau se-inchi saja menjauhi apalagi pergi. Kutetapkan dalam diri aku akan menggoreskan tinta dalam hati yang tak akan pernah ku hapus lagi. 
Apapun yang menemani akan selalu menjadi semangat tersendiri menggapai mimpi dalam janji. 
Tak pernah luput dalam sujud setiap bersimpuh. 
Ia kuat terbaca terucap dalam doa. 
Mendekati pasti menjadikan doa seperti rasi berbentuk indah ketika bersinar ia dikabulkan. 

Pernah ada airmata tercurah menghampiri pipi terus melaju hingga kedalam hati.
Bukan sedih melainkan lirih berharap semua ucap adalah doa. 
Berharap Tuhan mendengar lagi membuat nyata. 

Sudah ini yang terakhir, tak pernah lagi mau membuka hati.
Apalagi menyakiti diri. 

Biar Tuhan mengeratkan dua hati.
Menjadi Ibadah yang suci. 
Dihadapan Ilahi. 

 

 

Hati Yang Sama, Sewarna, Kudekatkan Dengan Doa

Berkali-kali aku jatuh hati pada hati yang sama. Yang sewarna ketika pertama kali aku menyentuhnya.

Hati yang bukan cuma membuat aku mampu bersinggasana manis didalamnya, tapi hati yang juga mampu membuat aku berlari mengitari segala arah menjadi sarana aku berteduh disana.

Letak aku terjatuh tepat pada itaran hati yang mampu mengasihi lebih dari adanya hati. Menaungi sedemikian lelah, resah, amarah dan iri.

Bersyukur karena adanya hati pada waktu yang hadir pasti dan tidak menyakiti. Hanya pernah perih beberapa hari untuk pembelajaran diri lebih baik ketimbang diam berlutut disudut lirih.

Mengagungkan perintah Tuhan tanpa harus lelah terus mendekatkan dengan doa-doa. 
 

Ia.. Sang Hati

Ketika fikiran ini cemas, ia pun ikut gundah, resah.. Ia Sang Hati.

Ingin menata mati janji-janji yang belum pasti. Ingin meyakini hati yang termiliki. Namun gundah selalu menghampiri. Diantara hari demi hari. 

Berusaha sekuat hati mengikat diri dari segala iri yang mengiris. Mengajarkan ia, Sang Hati untuk tetap berdiri. Melawan pahit disini. Berteman sepi. 

Setiap hari ku bujuk ia Sang Hati untuk mengubah sepi mengingat janji tak kan pernah pergi sebelum mati semua rasa di hati. Bukan cuma janji tapi persetujuan tak ingkar hati. Menanti detik menjadi hari. Menanti datangnya takdir yang pasti. Didepan diri didepan hati. 

Sampai sedemikian hari. Masih kutuntun doa mengalir pada hati yang satu lagi. Yang ada diantara hati yang kumiliki.  

Wahai Sang Hati, bertahanlah hingga kau miliki pasangan hati hingga takdir menyetujui. Berdiri, jangan pernah bungkam dimakan iri. Yakini memang pantas memiliki.