Bukan aku tidak cinta.. aku sudah pernah..dulu.
Dan sudah cukup saja sampai dihari itu.
Aku bukan lagi gadis belia yang bisa kau sayangi hanya dengan memanjakannya dengan menonton film, berjalan-jalan, makan malam dan lainnya. Aku sudah cukup dewasa untuk mendengar kata dari mulutmu, mau dibawa kearah mana hubungan kita.
Lantas kau tidak berkata, bahkan kau hanya bisa mengungkapkan emosimu yang membuat aku bungkam seribu kata.
Aku memberi batas waktu.. bukan untuk bersabar.. tapi untuk menguji mampukah aku berfikir untuk bertahan.
Sampai dibatas waktu itu aku masih berusaha mencintaimu, bahkan mencoba mengulang segala kebahagiaan kita dulu. Tapi hasilnya NIHIL.
Sudah tak bisa lagi kurasa bunga-bunga cinta yang indah seperti dulu. Bahkan engkau enggan berkata meski aku ajak bicara berbagai bahasan. Dari situ aku belajar menerima dan mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Akankah aku bertahan atau pergi..
Sudah ku fikir ribuan kali, setiap waktuku semenjak itu tersita. Untuk makan dan tidur pun tak menentu. Ku habiskan hari-hari memikirkanmu. Memikirkan ketidakjelasan yang kita jalani.
Hingga akhirnya ku temukan jawab dari jawabanmu sendiri. Aku simpulkan dengan segala yang terjadi. Segala tentangmu kali itu. Dan aku bukan menebak, tapi aku benar tahu.. dari mulutmu sendiri.
Hari itu kurasa sudah tak ada lagi aku dalam 'keseriusanmu'. Sudah tak ada lagi aku dalam 'cita-citamu'. Sudah tak ada lagi aku dalam 'perjuanganmu'.
Masadepan yang kau fikirkan saat ini bukan lagi untuk kita tapi untuk dirimu sendiri dan mungkin duniamu.
Bukan aku tak mencoba mengimbangi duniamu sekarang. Tapi lagi-lagi aku tak sanggup lagi menggapaimu dengan tingginya kau saat itu.
Aku hanyalah wanita, yang butuh waktu 30 hari untuk mendapatkan penghasilan. Dan butuh 30 hari untuk menjanjikan ibuku aku akan membantunya melengkapi kebutuhan dirumah. Dan butuh waktu 30 hari untuk bisa membelanjakan kebutuhan sekolah adikku.
Aku bukan terlahir dari keluarga yang berada. Bahkan aku selalu terbiasa untuk mencari rupiah dan tak pernah ku sebut itu benar-benar melelahkan.
Aku tak sanggup bila harus mengikutimu dengan duniamu. Dengan hal-hal yang ku anggap, "Aku tidak butuh melakukan itu seperti mereka. Aku siapa dan mereka siapa?"
Aku berteman baik dengan duniamu, juga dengan isi didalamnya. Tapi bukan berarti semua harus ku samakan. Itu juga kufikir berlaku untukmu.
Kita memulai dengan titik tuju yang sama.. Harus aku dan kau yang berjuang. Bukan hanya egoku yang harus dipatahkan tapi juga milikmu. Segala kesenangan-kesenangan 'remaja' itu juga harusnya bisa kau saring dengan baik untuk mencapai titik yang kita mau. Tapi sayang, semakin lama kau semakin berlari jauh dari titik itu. Sudah berulang kuberikan tanda 'kembali'. Tapi kau belum mau kembali..
Maafkan..
Bukan aku tidak cinta.. aku sudah pernah..dulu.
Dan sudah cukup saja sampai dihari itu.
Maafkan..
Untuk satu keputusan yang kuambil dan sekaligus ku akhiri semua sampai disitu.
Maafkan..
Untuk pertahananku yang bukan hancur, tepatnya ku hancurkan dihadapanmu.
Bukan aku berlari membelakangi semua jalan yang sudah kita tempuh. Tapi maaf, aku harus kembali berlari kehadapan sana dimana titik yang ku tuju berada.. meski bukan lagi denganmu.. meski bukan lagi dijalan yang sama yang dulu ku tempuh.
Karena setengah mati aku belajar kembali berlari, setelah hari itu kau hancurkan segalanya berkeping-keping. Setengah mati aku bangkit dari diri yang terjebak jauh didalam sana.
Dan kini, ketika aku sudah bisa berlari.. Aku kan kembali mengejar apa yang ku mau.. Apa yang bisa membuatku bahagia.. Setelah sekian lama aku lupa caranya bahagia..
Yang ku tahu sekarang hanyalah aku ingin bahagia, dijalan manapun yang ku mau, dengan siapapun yang juga bisa membantuku bahagia.
Maaf jika aku sudah tidak lagi bisa menengok kearahmu sekalipun kau terjembab disana
Maaf jika aku harus meninggalkanmu
Tapi itulah yang kau mau..