Selasa, 29 Maret 2016

M A S (II)



hai.. selamat siang untukmu. yang seringkali berkata sayang. yang sering kali bahagiakanku. 
tahukah kau? aku beradaptasi terlalu bahagia dengan yang kau lakukan. 
belum banyak perjuanganmu. tapi sekecil apapun itu usahamu, aku bahagia. 
kau mulai mengguratkan senyum itu lagi dipipiku. 

ya, kamu. kamu membuatku ingin jatuh cinta. tapi aku belum terlalu berani melakukannya. 
seringkali aku rindu dipelukmu. tapi ketika itu aku selalu berfikir, selalu menahan hati untuk belum jatuh cinta sekarang. 

aku sama seperti dia. sang korban jatuh cinta tanpa batasan. jika sudah mencintai, aku akan benar larut didalamnya. 

tapi banyak hal darimu yang seakan membuka pintu yang baru dalam fikiranku. ucapan-ucapanmu tentang bagaimana kau mencintai wanitamu. tentang bagaimana cintamu bergerak dari angka sepuluh menuju titik nol. ah, aku mengagumi cara berfikirmu. memang seringkali kadang fikirku bertolak. tapi setiap kali kau selalu membuatku bisa memutar otak dua kali untuk mengiyakan segala pola fikirmu. 

aku sayang.. dan aku menyayangkan keadaan yang tidak mendukung. kadang aku ingin sekali tertawa. ini kadang lucu. tapi lucu yang kadang membuatku tersedak..

terimakasih untuk sekian bahagia yang seringkali kau beri. terimakasih untuk pelukan yang erat. terimakasih untuk dekapan yang menenangkan. terimakasih untuk cemburu. dan terimakasih telah menyayangiku. 

aku tidak menjanjikan bertahan. karena aku juga tidak ingin memaksamu berjanji. 
yang jelas.. saat ini.. kamulah celah kebahagiaanku. aku sayang.. tapi aku membatasinya. aku berharap tidak melanggar batas yang kubuat olehku sendiri.. 

mas, terimakasih untuk bahagianya.. 
jangan dulu pergi..
aku masih ingin didekapmu..
berkali-kali lagi..




hati belia.....



hampir setiap hari aku ingin terus mengentri rangkaian-rangkaian huruf didalam tulisan-tulisanku ini. rasanya ingin sekali mengosongkan hati dari sekian beban diri. aku ingin hati kembali seperti sedia kala sebelum aku merasakan cinta yang menyakitkan itu. aku ingin kembali jatuh cinta seperti pertama kali dulu, berbunga-bunga, bahagia.. 
aku ingin hati yang baru. yang belum ada bekasan luka. hati yang baru. yang seperti anak-anak belia. yang bahagia. jatuh cinta tanpa beban.. 

sayang seribu sayaaang........

aku rindu.. ingin kamu.. 
peluk kamu.. hmm.. didekap kamu..

kamu yang kalo meluk erat banget..
suka. 

aroma minyak wanginya..
aroma belum mandinya.. 

ah, rindu adek, mas. 

tapi sayang.....................seribu sayang.................
kamu.....................................................................

Senin, 28 Maret 2016

. . .

aku tak pandai berharap pada bahagia
untuk kecewa, aku selalu berangan.. 

bukan karena aku tak ingin

tapi belum ada bahagia datang seorang diri membawaku.. 

m e s k i

aku sayang.. meski ku tahu itu panggilan untuk luka.. 

k e l u h

mengadu pilu. aku menopang dagu. rindu. ku ucap kelu. padamu. sang ragu.
aku menyelisik. mengusik. dalam diam aku berbisik. 
tapi. ku nikmati. setiap kali. meski miris. aku berhati-hati. pada hati. hingga terpatri.
tidak ingin pergi. aku masih disini. berbekal separuh hati. sisi lain yang mati.  

kau. keikhlasan menemani. meski tak ada satu yang pasti. kau. tempatku berbahagia. hingga satu waktu. nanti. mungkin kau hilang. bersama. atau tidak dengan. 

biar. kuperpanjang. kuperlebar. aku beri luas. biar aku berlari. atau mungkin berdansa. diatas tepian duka.
tak melulu tentang luka. biar untukku bahagia. meski sementara.


untuk : tidak ada...

sudah.. aku sudah benar masuk kedalamnya. mencari tahu keberadaannya, dimana dan seberapa dalam. sudah.. aku sudah melihatnya disebelah sana dengan harapan juga besar yang ia genggam.. 
aku telusuri semakin dalam tentang keberadaannya. tidak hanya dari satu sisi, bahkan juga dari dua sisi lain tanpa orang tahu. untuk apa? untukku tahu seberapa jauh bila ku tersesat nanti. 

aku mencari tahu, bahkan terus menerus. ya, kebiasaanku memang. menjadi 'jago' dibidang ketidakpentingan ini. 

entah sebenarnya ia siapa, aku tak pernah benar mengetahuinya. dari setiap kata yang ku baca, rasanya ia hampir sepertiku. perempuan yang habis kecewa. padahal harusnya ia tidak. 
kata per kata bahkan aku rasa persis sama dengan isi kekecewaanku. tentang cinta yang lama lantas sirna. 

aku tak tahu apakah itu hanya sekadar cerita atau angan-angan kesakitannya. tapi membacanya lantas membuatku merasa bersalah. aku menjadikan mungkin diriku atau ia yang nantinya juga akan kecewa. 

ah, sungguh. perasaanku semakin tidak menentu. tak tahu kemana arah aku mencari keyakinan dan kepastian. sementara tiada jalan terbuka untuk itu. aku hanya mampu bersembunyi, dari balik jalan besar yang ada. aku hanya mampu melintas, itupun sendiri dan ketika tiada orang berlalu-lalang. 

entah kemana dan apa. aku ingin bahagia.. tapi rasanya aku terlalu terbawa perasaan yang lain. yang biasa disebut 'sayang'. kata itu rasanya datang tidak di papasan yang tepat. bukan dijalan yang sama, tapi ia ada di persimpangan. yang belum ku tahui kemana arah tujuannya. 

sekian kali ku katakan, 'aku hanya ingin bahagia'. tapi bayang-bayang kehilangan juga terus ada.. lantas apa? lantas bagaimana? 

aku bertanya untuk tidak ada yang menjawab. meski bisa, bukan perkara mudah. entah belum, atau memang tidak. 








Sakit Hati..

Sakit hati.. membuatku tak bersahabat dengan lapar dan kantuk. Karena sakit hati, aku hanya sekedar mengenal apa itu lapar dan tidur. Menemuinya asal saja, sekedar jumpa. Aku tak lagi menjadikannya sahabat yang ku temui ketika aku lelah dan bosan. 

Sakit hati membuatku hidup berhari-hari hanya dengan membuka mata yang tak berangan. Sakit hati.. yang teramat. Merobek segala mimpi dan cita-cita. Aku sering menemui sakit hati, tapi saat itu tidak pernah sesakit kemarin. Sakit hati kemarin, membuatku hafal dan lulus melaluinya. Aku sudah hafal bagaimana ia akan datang, bagaimana ia membabi-butakan. Aku lulus serangkaian tangisan dan jeritan. 

Sakit hati kemarin.. mengajarkanku.. tentang kecewa yang datang bukan tanpa undangan. Sungguh aku sekarang paham. Aku lah yang mengundang kecewa itu. Aku lah yang memberikan ia kunci. Kapan saja ia bisa masuk tanpa mengetuk. 

Dan sekarang.. aku pula yang datang memberikan undangan pada kecewa. Lagi-lagi aku berani melakukannya. Aku tahu, sejak undangan itu ada tandanya aku harus segera bersiap untuk terluka. 
Walau aku tahu tak pernah ada obat untuk sakit hati, paling tidak aku tidak perlu panik dan menangis menghadapinya. Aku sudah hafal sebelumnya, seberapa getir rasanya. Dan sekalipun aku harus menelannya lagi, aku tidak ingin terbawa jatuh kedalamnya. 

Karena akulah Sang pembuat undangan kekecewaan itu. Dan akulah yang akan menemuinya.. kapan saja ia masuk tanpa mengetuk.. 

Rabu, 23 Maret 2016

dibahagiakanmu..

sungguh. sudah tidak ada lagi ruang untuk kujejali masa lalu. sungguh. sudah tidak ingin kubuka lagi luka.
dan sungguh.. kau sudah menghapusnya. menggantinya dengan cerita yang bahagia.
tidak jelas akhirnya. tapi aku tahu saat ini indah.

entah apa alasan aku percaya. tapi aku telah percaya. bahkan lebih dari rencana.
entah apa alasan aku untuk mau. masuk dalam celah kalian.

ingin tertawa. kadang.
ingin menangis. juga.
tapi lantas kau ada. menukarnya dengan bahagia.

aku belum mau berucap terimakasih.karena aku masih mau disini. dibahagiakanmu..

d i s i n i a k u b a h a g i a

aku tidak ingin mati sekarang. aku masih ingin berjuang. berjudi dengan kebahagiaan. 
mati yang  ku maksud, diam tidak dengan melakukan apa-apa. 

aku senang berdiam. tidak melawan. bukan karena lelah. karena sudah cukup bahagia. 
aku malas bertaruh dengan alam. biar saja anganku yang menembus batas lemah.

aku kaku. aku tidak biasa. tapi karena bahagia, aku ada. 

aku tidak lagi berani berlari melewati waktu. percuma. kelak sang waktu juga yang akan mengalahkanku. 
aku akan berjalan berdampingan bersamanya. melihat kiri-kanan. hingga sang mentari terbenam. 

sudah cukup kuhabiskan daya. kini aku ingin bahagia. 

aku tahu alam membantuku. menghijaukan segala pepohonan yang kulihat. membirukan kembali langit diatasku. menerangi arah bahagia. 

Selasa, 22 Maret 2016

-22 03 2016-

Sebagian banyak tulisanku hari ini, teruntukmu, mas. 
Tidak banyak maksud.. aku sekadar suka bercerita pada kata.

m u n g k i n , t a p i

habis sudah kata-kata. aku mungkin tahu yang terjadi, tapi aku menolak melihatnya. aku mungkin tahu esok, tapi aku masih ingin hari ini lebih panjang. aku mungkin tahu bagaimana cara berlari, tapi aku masih ingin duduk manis disini. aku masih ingin ada dalam dekapanmu bersama harummu seperti kemarin.

faigk!

sayangnya.. kali ini aku harus melawan bayang-bayang lagi. kemarin, dengan hal yang sama akupun pernah berjuang melawannya, aku menang tapi lantas semakin lama aku tumbang.

kini.. atas kemauanku sendiri, lagi-lagi aku bertanding untuk itu.

( l a g i )

mencintai bagaimana caramu membahagiakan.. 
mencintai bagaimana caramu berusaha memperjuangkan.. 
dan kini mencintai untuk takut kehilangan (lagi)


senang..
aku ingin menemanimu ketika lelahmu
aku ingin juga menyeka keringatmu seperti kau lakukan itu.. 


Belajar dari hujan......

Hujan ajari aku mengenal aroma kedatangan pelangi..
Hujan ajari aku betapa ajaibnya dunia mengubah gelap menjadi warna-warni..
Hujan ajari aku kesejukkan yang datang setelahnya..
Membawa rupa-rupa kedamaian..
Damai mencium aromanya
Damai menatap indahnya
Damai menyentuh sejuknya..

Hujan pernah deras membasahi 
Tapi kini telah ada yang berani memayungi
Menjaga diri dari dingin..

Kini..
Seberapapun hujan datang 

Aku tak pernah lagi risau
Tentang kemana aku harus berteduh
Karena berdiri pun kini aku mampu menghadapinya.. 




Mas..........

Mas, adek lelah. Adek capek, pusing denger banyak omongan dari dia. Adek terganggu, mas. Adek gak suka diinget-ingetin hal yang pernah adek sayang apalagi orangtua. Mas, bantu adek. Kasih adek pencerahan supaya adek gak baper, mas. Adek kesel, adek muak. Adek pengen nangis, mas. 
Kamu susah sih mas buat ditemuin. Bahumu ituloh mas, adek butuh. Mau didekap sama mas sampe adek tenang. Mau didekap sama mas sampe adek bobok, mas. 

Terlambat

Kau terlambat untuk tahu apa itu kehilangan
Kehilangan bukan untuk kau tahui ketika ia datang begitu saja
Tapi kau perlu pelajari jauh sebelum hari itu ada

Hidup bukan hanya bergantung pada Tuhan
Kau juga perlu memikirkan tentang harapan-harapan nyata yang tergantung di setiap sisi dunia..

Kau juga harus pelajari bagaimana rasanya kehilangan harapan-harapan yang hampir nyata
Dan aku sudah pelajari itu jauh sebelum hari ini kau merasakannya..

Berjuanglah, nikmati..

aku sedang..


Aku senang kali ini, bisa bercermin melihat diriku yang bahagia. 
Aku senang, datang seseorang yang membungkus manis kebahagiaan itu. 

Sederhana ia buat. 
Cukup untuk melihatku tersenyum dan tertawa.. 

Beberapa kali ku lihat ia sedang menetapkan matanya ke arahku ketika aku tertawa.. aku tahu ia memperhatikannya..

Cukup untukku.. aku hanya butuh bahagia.. 
Seorang teman pernah berkata," Bahagia itu gak bisa dibeli dengan uang. Jadi nikmatilah.."

Tahukah kau? Aku sedang..

Aku masih belum mau sebenarnya untuk berfikir dua-tiga langkah kedepan
Aku masih ingin menikmati bingkisan-bingkisan kecil kebahagiaan yang kau beri..
Sebelum 'mungkin' kau pergi..

Tahukah kau? Aku sedang..
Menikmati mencintaimu.. tanpa aku perlu takut kehilanganmu
Bukan karena kau selamanya akan ada denganku
Tapi karena setiap waktuku kau buat bahagia..

Tahukah kau? Aku juga sedang.. 
Bahagia denganmu.

Iya, toh?

Aku tahu cinta itu nantinya membesar.. tapi lantas lama-lama dipaksa hilang.
Aku rasa kali ini pun sepertinya sama.. 

Ah, sudah bahagia ya sudah. Jangan banyak bicara. Sudah tahu toh, nantinya kehilangan. 

Berfikir terlalu banyak tidak juga bisa merubah apa-apa. Jalani dan berbahagialah.. Cukup!


Senin, 21 Maret 2016

Singgah Dalam Indah

Sang kupu-kupu terbang.. Bebas.. Tidak pernah tentu arah
Lalu ada yang datang dengan bunga digenggaman. Memberinya kesempatan singgah. Merasakan harumnya yang indah. 

Bukan setaman bunga. Hanya empat tangkai yang indah. Kupu-kupu itu seakan bercerita bebas, terbang kesana kemari dengan bahagia yang belum pernah datang lagi semenjak taman hidupnya pergi. 

Kupu-kupu singgah disatu kuntum mawar dalam genggaman itu, merasakannya dengan lembut.. Semenit, dua menit.. Ia berpindah ke kuntum mawar lainnya. Melakukan hal yang sama.. 

Kupu-kupu ini berdiam dengan kepak yang lagi menawan. Warna-warna usang sudah ia cerahkan..

Entah sampai kapan mawar itu mampu untuk tak layu, kupu-kupu itu masih ingin singgah dalam indahnya..  

Kugantung Dihadapan

Aku agak paham rupanya dengan rasa yang beberapa waktu ini penuh mengisi cacat celah hati
Rasa yang pernah kurasa dulu, jauh sebelum hari ini
Tapi dulu.. rasa itu hanya sebatas ada. Ia tidak singgah ataupun menghuni..

Kini ku beranikan membuka pintu hati
Berharap Sang Pemberi Mawar itu datang menghampiri..

Dan benar saja..
Tidak perlu waktu yang lama
Waktu mengembalikan semua
Kenangan tentangnya waktu aku mengenalnya

Sang Pemberi Mawar itupun datang
Bukan sekadar melihat
Bahkan ia singgah kini dibatasan hati
Antara memasukinya atau aku meragukannya

Ia bukan datang dengan kesetiaan
Aku tahu itu benar
Ia bukan datang dengan kebohongan
Dan aku tahu itupun benar

Ia datang dengan sebenar-benarnya ia
Dengan hal yang tidak bisa kusebut 'baik'
Ia datang dengan kejujuran
Tentang siapa yang akan ia dustai

Sang Pemberi Mawar itu.. ya, dia.
Dia terus membawa hati ini terpeleset dengan segala ucapnya, tingkahnya..
Dia terus membawa diri ini semakin membukakan celah untuknya singgah..

Aku masih mempertimbangkan
Bukan karena ketidaksetiaannya
Bukan karena segala kelakuannya
Bukan karena segala kekurangannya

Aku hanya sedang berdiskusi dengan hati
Bagaimana memastikan diri
Agar tidak jatuh untuk sekian kali
Dalam hati yang mudah goyah untuk digali

Aku berdiri hari ini bukan mencari lagi permainan
Sesungguhnya ada harapan besar masih menggantung dihadapan
Ketika seorang laki-laki datang
Berniat tentang masadepan..

Entah itu kau, Sang Pemberi Mawar..

Jumat, 18 Maret 2016

Bukan aku tidak cinta

Bukan aku tidak cinta.. aku sudah pernah..dulu. 
Dan sudah cukup saja sampai dihari itu. 

Aku bukan lagi gadis belia yang bisa kau sayangi hanya dengan memanjakannya dengan menonton film, berjalan-jalan, makan malam dan lainnya. Aku sudah cukup dewasa untuk mendengar kata dari mulutmu, mau dibawa kearah mana hubungan kita. 
Lantas kau tidak berkata, bahkan kau hanya bisa mengungkapkan emosimu yang membuat aku bungkam seribu kata. 

Aku memberi batas waktu.. bukan untuk bersabar.. tapi untuk menguji mampukah aku berfikir untuk bertahan. 
Sampai dibatas waktu itu aku masih berusaha mencintaimu, bahkan mencoba mengulang segala kebahagiaan kita dulu. Tapi hasilnya NIHIL.

Sudah tak bisa lagi kurasa bunga-bunga cinta yang indah seperti dulu. Bahkan engkau enggan berkata meski aku ajak bicara berbagai bahasan. Dari situ aku belajar menerima dan mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Akankah aku bertahan atau pergi.. 

Sudah ku fikir ribuan kali, setiap waktuku semenjak itu tersita. Untuk makan dan tidur pun tak menentu. Ku habiskan hari-hari memikirkanmu. Memikirkan ketidakjelasan yang kita jalani. 

Hingga akhirnya ku temukan jawab dari jawabanmu sendiri. Aku simpulkan dengan segala yang terjadi. Segala tentangmu kali itu. Dan aku bukan menebak, tapi aku benar tahu.. dari mulutmu sendiri. 

Hari itu kurasa sudah tak ada lagi aku dalam 'keseriusanmu'. Sudah tak ada lagi aku dalam 'cita-citamu'. Sudah tak ada lagi aku dalam 'perjuanganmu'. 
Masadepan yang kau fikirkan saat ini bukan lagi untuk kita tapi untuk dirimu sendiri dan mungkin duniamu. 
Bukan aku tak mencoba mengimbangi duniamu sekarang. Tapi lagi-lagi aku tak sanggup lagi menggapaimu dengan tingginya kau saat itu. 

Aku hanyalah wanita, yang butuh waktu 30 hari untuk mendapatkan penghasilan. Dan butuh 30 hari untuk menjanjikan ibuku aku akan membantunya melengkapi kebutuhan dirumah. Dan butuh waktu 30 hari untuk bisa membelanjakan kebutuhan sekolah adikku. 
Aku bukan terlahir dari keluarga yang berada. Bahkan aku selalu terbiasa untuk mencari rupiah dan tak pernah ku sebut itu benar-benar melelahkan. 

Aku tak sanggup bila harus mengikutimu dengan duniamu. Dengan hal-hal yang ku anggap, "Aku tidak butuh melakukan itu seperti mereka. Aku siapa dan mereka siapa?"
Aku berteman baik dengan duniamu, juga dengan isi didalamnya. Tapi bukan berarti semua harus ku samakan. Itu juga kufikir berlaku untukmu. 

Kita memulai dengan titik tuju yang sama.. Harus aku dan kau yang berjuang. Bukan hanya egoku yang harus dipatahkan tapi juga milikmu. Segala kesenangan-kesenangan 'remaja' itu juga harusnya bisa kau saring dengan baik untuk mencapai titik yang kita mau. Tapi sayang, semakin lama kau semakin berlari jauh dari titik itu. Sudah berulang kuberikan tanda 'kembali'. Tapi kau belum mau kembali.. 

Maafkan..
Bukan aku tidak cinta.. aku sudah pernah..dulu. 
Dan sudah cukup saja sampai dihari itu. 

Maafkan..
Untuk satu keputusan yang kuambil dan sekaligus ku akhiri semua sampai disitu. 

Maafkan..
Untuk pertahananku yang bukan hancur, tepatnya ku hancurkan dihadapanmu. 

Bukan aku berlari membelakangi semua jalan yang sudah kita tempuh. Tapi maaf, aku harus kembali berlari kehadapan sana dimana titik yang ku tuju berada.. meski bukan lagi denganmu.. meski bukan lagi dijalan yang sama yang dulu ku tempuh. 

Karena setengah mati aku belajar kembali berlari, setelah hari itu kau hancurkan segalanya berkeping-keping. Setengah mati aku bangkit dari diri yang terjebak jauh didalam sana.
Dan kini, ketika aku sudah bisa berlari.. Aku kan kembali mengejar apa yang ku mau.. Apa yang bisa membuatku bahagia.. Setelah sekian lama aku lupa caranya bahagia..
Yang ku tahu sekarang hanyalah aku ingin bahagia, dijalan manapun yang ku mau, dengan siapapun yang juga bisa membantuku bahagia. 

Maaf jika aku sudah tidak lagi bisa menengok kearahmu sekalipun kau terjembab disana
Maaf jika aku harus meninggalkanmu
Tapi itulah yang kau mau..


Rabu, 09 Maret 2016

Tanda Baca

Entah telah terlalu usai atau apa
Sudah tak lagi aku punya rasa
Aku tak ingin lagi terluka..

Bagai tanda baca
Lagi-lagi aku hanya mampu menjadi koma
Tidak pernah bisa mengakhiri kata
Hanya menjeda kemudian memulainya lagi dan lagi

Aku tak benar-benar punya tanda tanya
Yang kupunya hanya kutip yang ku letakkan titik didalamnya
Angan-angan untuk ku sampaikan..

Sampai kapan aku menjadi koma
Dan selama itulah aku hanya menjeda
Tak bisa ku usaikan apa-apa..