Rabu, 20 Juli 2016

M A A F

Kadang
Ada kata yang terselip menyakitkan

Kata yang mungkin tidak sengaja
Tapi cukup membuat bernafas jadi tak lega

Ketika mata sulit terpejam
Ingin ku ulang
Harusnya tak bertatap pandang

Mungkin jemari masih tetap bisu
Akal berkelut lesu
Atas amarah yang berpacu

Maaf untuk rindu yang masih menggebu
Dibalik kecewa yang kelu

Meski tak ada harapan Satu
Paling tidak bisakah kita bertemu di hari Sabtu?

Selasa, 19 Juli 2016

R I N D U

Tarikan nafasku bergetar
Ada degup jantung yang bekerja lebih dari sebelum aku membaca pesan nya

Mulutku rapat
Tak lagi membaca dengan ucap

Aku rindu..
Pada peluk yang erat

Aku rindu..
Pada kecup yang pekat

Aku rindu.. 
Pada tatap tanpa pejam


Tuhan..
Jangan lagi jatuhkan aku berkali-kali lagi
Sudah disini saja
Biar ku luruskan
Dia. Sudah, dia. Jangan kau tukar dengan kecewa. 
Kesekian kali. 

Senin, 18 Juli 2016

K A T A

Kantung-kantung mata tak pernah berbohong
Tentang menyimpan lelah
Setelah beberapa hari tidak lelap

-------------------------------------------------------------------------------------

Masih ku simpan dalam galeri, sedemikian rupa raut muka kita saat mengambil sebuah gambar penuh arti. Masih ku simpan rapi dalam memori, bagaimana kau datang lantas pergi.

-------------------------------------------------------------------------------------

Setelah kata-kata maka langkah
Aku menggantung beberapa saat pada jaring laba-laba
Lama-lama..
Aku jatuh
Beban tak bertenaga.. 

-------------------------------------------------------------------------------------

Aku konsonan
Butuh vokal
Kepada bicara
Agar menerka

-------------------------------------------------------------------------------------

Tak ada jarum dalam jerami
Yang ada jarum menyerupa jemari

Alih-alih..

-------------------------------------------------------------------------------------

Tidak seperti hari
Ini lebih dari dua puluh empat jam 

Tidak seperti kemarin
Ini lebih dari ucapan kata yang tajam

-------------------------------------------------------------------------------------

Asa
Rasa
Peka
Raga 
Penat

Maka

Pasrah.

Jumat, 15 Juli 2016

D I A M

Aku paham..
Mungkin diam adalah sebuah jawaban
Jawaban dari kepergian
Diam membuat kepergian tidak datang secara terkejut
Diam berhari-hari sama dengan memberi pelajaran tentang melupakan tanpa pengakuan
Diam berhari-hari sama dengan melepaskan tanpa hitungan

Ya, diam adalah jawaban
Percobaan dari pelarian, kepergian juga ketidak-inginan. 

Kamis, 14 Juli 2016

PERGI KE PANTAI

hari ini juga aku mau membawa sesak mengadu pada indahnya pantai. sejauh apapun itu. aku sudah ingin berteriak biar resahku hilang terbawa dinginnya angin. 

Rabu, 13 Juli 2016

D I N G I N

Cikarang selalu menjadi dingin. Ketika aku berada dalam lemahku. Sweater terhangat yang ku miliki, menjadi sangat kumal karena ia penemanku pagi sampai malam, malam ke pagi lagi. Di dalam kamar sekalipun..

Dingin sekali. Bibirku sampai kering. Begitu juga kulit siku dan jemari yang mengeriput.. 

BIMBANG - Melly Goeslaw

Sudah tiga jam sedari belum jam makan siang tadi, satu lagu pengisi film Ada Apa Dengan Cinta ku putar berkali-kali. Sendu nada yang makin menyiksa. Tapi aku menikmatinya. Syair yang mengena langsung ke pikiranku. Sampai aku hafal bahkan setiap melodinya. Bimbang. Aku suka lagu ini saat ini. Suka sekali.. 
Biar ku putar beberapa kali lagi.. 

Ah, kau lagi malaikat.


Malaikat-malaikat Tuhan terlalu asyik mengajak aku bermain di sisi jurang. Indah memang. Tapi sudah sekian kali aku jatuh kebawah sana, tertancap duri pula. Yang perihnya belum benar-benar sirna. Kali ini lagi-lagi aku mau untuk di tuntun ke sana, tempat dimana indah, bahaya dan luka menjadi perjudian langkahku. Sudah beberapa hari ini, aku hanya bisa bergerak dengan sebelah kakiku, karena sebelahnya lagi sedang terjepit diantara dahan pohon yang akarnya mengarah ke jurang itu 'lagi'. Aku trauma, ingin menjerit.. namun apa itu mampu menyurut takutku? Yang ada aku semakin dahaga, sudah tiga hari rasanya seperti tidak bertemu aroma air segar, ditambah harus menjerit.. lebih baik ku urungkan niat itu segera. 

Aku tak mampu berharap pada apa-apa. Saat ini diam menjadi pilihan, selain jari-jari tangan yang terus mengorek-ngorek tanah entah untuk apa tujuannya. Hingga kuku-kuku menjadi hitam. Debu-debu mulai masuk ke rongga pernafasan. Aku seperti menanti sakit. Tinggal sedikit lagi, bahkan. 

Tapi malaikat-malaikat terus saja memandangiku. Berharap aku mengambil satu langkah. Yang mereka pula tak pernah menjanjikan aku tak terjatuh lagi. Ah, kau lagi malaikat. Kadang aku benci permainan hidup seperti ini.  

Ya, itu aku.

Ini namanya berharap pada luka..


Berapa banyak hal menyenangkan yang kau dapat dari luka?
Hanya kesempatan beristirahat sebentar, lantas kau terbangun karena linu pada setiap sendimu akibatnya
Tidurmu tak bisa senyenyak hari sebelumnya ketika luka itu belum ada
Belum lagi harus membalutnya setiap kali kau pergi atau keluar dari kamar tidurmu
Menyembunyikan pada semesta
Berharap tak ada yang benar-benar tahu seberapa sakit kau rasa


Ya, itu aku.


Selasa, 12 Juli 2016

Pada Akhirnya..

Sebuah kapal dengan sepuluh pendayung mulai bergerak ke tengah lautan.  Nahkoda dengan gagah mengepalai pasukan berlayar.  Hingga sampai di tengah laut,  semua pendayung diam.  Nahkoda membelokkan kemudi. Kapal tidak cepat bergerak.  Namun lama-kelamaan,  akan tiba kapal memutar arah dibawa angin kencang menghembus layar. 

MENJAUH DARI DUNIA SAMPAI WAKTU YANG KU MAU


aku mengulangi kesalahan seperti biasa. mencintai lebih dari seharusnya. sehingga terlalu banyak harap yang ku tanamkan. berharap cita-cita dengan cepat tercapai. 
nafsu yang tidak cermat. tidak diperhitungkan sama sekali. bukan hanya membawa keganjilan tapi justru pengurangan hasil di kemudian hari. 
aku si Sang Pemaksa. memaksa kemauanku pada waktu dan kondisi yang tidak pernah tepat. sungguh pemikiran anak dungu. belum masuk bab perkalian, tapi aku terlalu banyak menerka hasil yang ku anggap tepat. padahal sama sekali tidak mendekat pada rumusan.

perempuan dungu ini lagi-lagi berkutat dengan ajaran yang sama sekali tak berdasar teori. memakan mentah-mentah nafsu dalam diri. merugi hingga hampir seratus persen. cara melangkah yang fatal. fatal hitungannya!
aku berhitung tidak mulai dari 1 lantas 2 lalu 3 hingga 10. aku melompati beberapa angka yang seharusnya ku sebut perlahan. supaya angka 100 jatuh hitungannya tepat pula pada waktunya. 

sekarang, setelah sudah ku dapati terlalu banyak salah dibanding benarnya hitunganku, aku memiliih (lagi) berdiam. entah sambil berhitung atau kali ini aku hanya membaca atau bahkan tidak keduanya. aku ingin kembali mundur dari yang ku sebut dunia. cinta, kesenangan, permainan, sosial dan semua yang bersangkutan dengan itu. lagi-lagi rumah menjadi tempat aku bersembunyi sembari aku memperkuat diri dalam diam. makan seperlunya. berlatih fisik sebanyak-banyaknya. mencari kesibukan tanpa dunia terdekatku tahu. aku sudah pernah seperti ini sebelumnya. harusnya kali ini akan lebih mudah.  

belum sehari saja, sudah banyak mulut berbicara tentang paras wajahku hari ini yang tak seperti biasa. sudah hampir semua orang yang kutemui hari ini melayangkan banyak tanya. dan sudah tentu aku menjawabnya dengan senyuman. aku akan biarkan pertanyaan di kepala siapapun tentangku surut dengan sendirinya sampai nanti aku akan keluar dan kembali lagi dalam kehangatan bersama duniaku. 

aku cukup dengan tidak lagi menggunakan telepon genggam, sosial media, termasuk keluar untuk sekadar ketawa-ketiwi dengan sebaya. biar aku seperti masa-masa SD dulu. bermain tanpa jaringan komunikasi yang memadai. atau mungkin karena ini sampai saat ini cara berfikirku belum tampak seperti perempuan dewasa pada seharusnya? entahlah. biar waktu membawaku diam dan kembali menjadi seseorang yang mungkin  'berbeda'. 




Senin, 11 Juli 2016

MENDUSTAI DUSTA


Mendustai dusta. Mempersilakan khianat. Memjamu kecewa. Membiarkan pahit terukir di gerbang, jalan keluar. 


K E L U


Bungkuk aku berdiri. Berkeringat. Sendi-sendi yang kaku. Tulang bergeser mengapur. Guratan keriput bersolek di belakang kuku. Dingin. Sendiri aku kelu.