Selasa, 12 Juli 2016

MENJAUH DARI DUNIA SAMPAI WAKTU YANG KU MAU


aku mengulangi kesalahan seperti biasa. mencintai lebih dari seharusnya. sehingga terlalu banyak harap yang ku tanamkan. berharap cita-cita dengan cepat tercapai. 
nafsu yang tidak cermat. tidak diperhitungkan sama sekali. bukan hanya membawa keganjilan tapi justru pengurangan hasil di kemudian hari. 
aku si Sang Pemaksa. memaksa kemauanku pada waktu dan kondisi yang tidak pernah tepat. sungguh pemikiran anak dungu. belum masuk bab perkalian, tapi aku terlalu banyak menerka hasil yang ku anggap tepat. padahal sama sekali tidak mendekat pada rumusan.

perempuan dungu ini lagi-lagi berkutat dengan ajaran yang sama sekali tak berdasar teori. memakan mentah-mentah nafsu dalam diri. merugi hingga hampir seratus persen. cara melangkah yang fatal. fatal hitungannya!
aku berhitung tidak mulai dari 1 lantas 2 lalu 3 hingga 10. aku melompati beberapa angka yang seharusnya ku sebut perlahan. supaya angka 100 jatuh hitungannya tepat pula pada waktunya. 

sekarang, setelah sudah ku dapati terlalu banyak salah dibanding benarnya hitunganku, aku memiliih (lagi) berdiam. entah sambil berhitung atau kali ini aku hanya membaca atau bahkan tidak keduanya. aku ingin kembali mundur dari yang ku sebut dunia. cinta, kesenangan, permainan, sosial dan semua yang bersangkutan dengan itu. lagi-lagi rumah menjadi tempat aku bersembunyi sembari aku memperkuat diri dalam diam. makan seperlunya. berlatih fisik sebanyak-banyaknya. mencari kesibukan tanpa dunia terdekatku tahu. aku sudah pernah seperti ini sebelumnya. harusnya kali ini akan lebih mudah.  

belum sehari saja, sudah banyak mulut berbicara tentang paras wajahku hari ini yang tak seperti biasa. sudah hampir semua orang yang kutemui hari ini melayangkan banyak tanya. dan sudah tentu aku menjawabnya dengan senyuman. aku akan biarkan pertanyaan di kepala siapapun tentangku surut dengan sendirinya sampai nanti aku akan keluar dan kembali lagi dalam kehangatan bersama duniaku. 

aku cukup dengan tidak lagi menggunakan telepon genggam, sosial media, termasuk keluar untuk sekadar ketawa-ketiwi dengan sebaya. biar aku seperti masa-masa SD dulu. bermain tanpa jaringan komunikasi yang memadai. atau mungkin karena ini sampai saat ini cara berfikirku belum tampak seperti perempuan dewasa pada seharusnya? entahlah. biar waktu membawaku diam dan kembali menjadi seseorang yang mungkin  'berbeda'. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar