Malaikat-malaikat Tuhan terlalu asyik mengajak aku bermain di sisi jurang. Indah memang. Tapi sudah sekian kali aku jatuh kebawah sana, tertancap duri pula. Yang perihnya belum benar-benar sirna. Kali ini lagi-lagi aku mau untuk di tuntun ke sana, tempat dimana indah, bahaya dan luka menjadi perjudian langkahku. Sudah beberapa hari ini, aku hanya bisa bergerak dengan sebelah kakiku, karena sebelahnya lagi sedang terjepit diantara dahan pohon yang akarnya mengarah ke jurang itu 'lagi'. Aku trauma, ingin menjerit.. namun apa itu mampu menyurut takutku? Yang ada aku semakin dahaga, sudah tiga hari rasanya seperti tidak bertemu aroma air segar, ditambah harus menjerit.. lebih baik ku urungkan niat itu segera.
Aku tak mampu berharap pada apa-apa. Saat ini diam menjadi pilihan, selain jari-jari tangan yang terus mengorek-ngorek tanah entah untuk apa tujuannya. Hingga kuku-kuku menjadi hitam. Debu-debu mulai masuk ke rongga pernafasan. Aku seperti menanti sakit. Tinggal sedikit lagi, bahkan.
Tapi malaikat-malaikat terus saja memandangiku. Berharap aku mengambil satu langkah. Yang mereka pula tak pernah menjanjikan aku tak terjatuh lagi. Ah, kau lagi malaikat. Kadang aku benci permainan hidup seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar