Jumat, 29 Juni 2018

aku pamit

dari menyapamu

kembali

ke ruang sepiku

bersama mentari

kuhadapi sendu


sayangnya, aku pergi dengan luka. 
tapi baiknya, kamu lebih baik tanpa mengenalku.

kepadaku
bukan berarti kau bebas mencaci

kepadaku
bukan berarti kamu boleh memaki

kepadaku
yang salah padamu
izinkan maaf

kepadaku
yang mengecewakanmu
izinkan belajar

kepadaku
kamu
bukan berarti semaumu


Rabu, 27 Juni 2018

sudah tidak ingin rasanya berdebat denganmu

aku sudah di titik malas

tak ingin bicara

biarkan saja waktu menyelesaikan

melewatkan doa di sepertiga malam
pada hari ke enam
aku tahu, ketika itu setan datang
melelapkan aku dalam kenyenyakan

padahal aku hanya ingin membiasakan
bangun untuk beribadah di sepertiga malam
agar aku tahu
bagaimana caranya melawan setan
yang membuat aku memikirkan selain Allah

Selasa, 26 Juni 2018



harusnya aku menundukan kepala
setiap kali melihat
karena aku selalu tak mampu membiarkan pandangan
diam sampai di mata saja



kau datang disaat aku melupakan

bukan kali pertama

tapi selalu..




Terimakasih kamu yang membiarkan

Terimakasih kamu yang mengajarkan

Karena hidup tak berupa datang dan tetap

Tapi datang, belajar lalu pergi

Semoga aku tetap mandiri

Belajar mengenal keputusan sendiri




Senin, 25 Juni 2018

aku berat

menahan rindu

dan lemak diperut

huh

andai saja diet berlaku pada rindu

ingin kususutkan 

hingga tidak terlampau berlebih 



kebanyakan lemak, aku sulit bergerak

pun sama kebanyakan rindu

aku sulit mengadu




Jika dingin

Pastikan kamu tidak diluar

Masuklah

Hangatkan dirimu

Meski dengan menggenggam tanganmu sendiri

Atau memeluk kedua lututmu

Karena menghangatkan lebih baik

Ketimbang kamu menahan kedinginan 

Nanti menggigil...



Rindu itu halusinogen


Memaksa saraf otak berhalusinasi


Jumat, 22 Juni 2018


menghela nafas, aku

menoleh, aku

tetap berjalan, aku

berbahagialah, 

kamu



aku hanya akan berdoa

untuk apa-apa yang menjadi kesukaan Allah

biar aku memakan egoku

asal Tuhan tahu mana yang terbaik untukku

menyayangi yang paling benar adalah dengan mendoakan

semoga semua menjadi seperti yang seharusnya

semoga Tuhan merestui apa-apa yang menjadi jalanku

meski hanya milimeter

percayalah, aku ingin lebih baik daripada kemarin

semoga Tuhan segera mengampuni

segala yang pernah menjadi buta karenaku

semoga Tuhan masih mau mendengar semua doa

yang ku panjatkan untuk mereka yang pernah ada menyayangiku



aku memilih tidak memintamu kembali
aku memilih tidak mengharapmu kembali

bukan karena aku tidak rindu
bukan pula karena aku tidak ingin

tapi aku tahu,
datangnya aku bukanlah yang kau ingini

perginya aku,
adalah yang kau harap

Kamis, 21 Juni 2018

mentari

ia datang

cerah

bersama angin

mengitari langkah

sejuk

menenangi



agendaku, melelapkan tidur dimalam hari untuk hari ini, esok dan seterusnya. 
lalu, membangunkan diri di sepertiga malam. 
meminta segala kebaikan untuk arah hidupku.

semoga Tuhan terus menguatkan sabar
karena aku selalu melemah tentang itu
semoga Tuhan juga menguatkan ketabahan
karena aku yang belum mampu mempelajari itu


Rabu, 20 Juni 2018

Dengan ini aku melanjutkan rangkaian cerita yang pernah ku tulis lalu ku sematkan dalam diary hari ke hari. Dimana saat aku terluka, ketika aku sepi, dibalik kesendirian ini aku adalah seorang yang seringkali menangisi malam. Karena malam datang padaku membawa memori-memori tentang aku yang pernah bahagia. Tapi diakhir waktu menjelang pagi ia menghadapkan pada akhir mengapa aku lagi-lagi kehilangan kesempatan menggenggam itu semua. Aku yang merelakan malam-malam tanpa memejamkan mata. Hanya untuk menyadari betapa bodohnya diri. Berulang menjadi pribadi yang tak pernah mau mengerti. Entah kapan aku tersadar, apa alasan aku diciptakan. Entah kapan aku pahami, mengapa luka dihadirkan. Aku masih duduk disini, bersama sepi yang berkerumun menghampiri.
apa artinya jika aku mencintai?
lalu apa artinya jika belum atau bahkan tidak?
aku akan sama-sama kehilangan.

catat.

hari dimana pilu mengetuk pintu

lalu aku

tak membukakan

namun rupanya ia menjadi udara

merangsak masuk lewat celah celah jendela

membuat aku menghirupnya

ku hempas

hirup kembali

sampai sesak aku

mataku kelu

bergelimang dalam satu ruang semu

penuh nada-nada minor sendu

ku hentak

ia enggan pergi

bahkan semakin menjadi

hingga aku hanya bisa menangisi

bait demi bait ku tulis

menjadi pengganti percakapan malam ini

dan malam kemarin

sampai esok hari datang lagi

mungkin sampai ku lupa

mengapa aku berkelahi

dengan ego dan hati

ku menangkan kuasa diri

tanpa berfikir

mengapa kau datang lantas pergi

tanpa seucap kata pamit yang manis

aku kehilangan
jiwa-jiwa yang mengisi hari
mendamba datang
tapi nyatanya telah pergi

aku tak tahu diri
jika aku inginkan kembali

lalu aku berdusta
jika aku tak lagi ingin memeluknya

aku, pendosa.

menangis aku
pada sudut yang selalu ku buat kosong sepi

menangis aku
pada titik yang ku buat gelap karenaku

menangis aku
karena kesengajaanku bermain-main pada diri

kini
menangis aku
begitu dalam
hanya sendiri

buruk
aku terpuruk
pada satu waktu menusuk
membuat aku hanya bisa meringkuk
pada keadaan aku sendiri lantas membusuk

Senin, 18 Juni 2018

kini aku menduduki panggilan pergi yang Tuhan dan kau berikan

bisa jadi ini adalah jalan kebaikan dimana aku harus tetap bersyukur walaupun kehilangan

atau bisa jadi ini adalah waktu yang berjalan maju lebih cepat dari yang belum aku bayangkan

semua akan menjadi baik ketika aku tidak tumbuh menjadi pribadi yang menganggap hutan adalah istana boneka

semua akan kembali ketika aku mampu bergerak, maju dan terus berjalan bersama dengan aku yang seharusnya paham apa yang selama ini kalian bicarakan

semua akan menjadi baik dan seharusnya ketika aku pulang kearah Tuhan berada

aku berkilah, mencari jalan dari kekeliruan arahku hingga aku berputar tiada jua bertemu dimana jalan keluar

aku berkilah, aku yang berenang, mendaki, berlari pada kebenaran dikepala

padahal itu tidak tentu berujung pada muara

kamu pernah menghidupkan kembali waktu yang mati diantaraku
aku pernah mendatangkan kembali sakit yang sudah kau buat pergi mati diantara hidupmu
lalu ketika semua kembali seperti sebelum aku dan kau, hidupkan dan datangkan, kepada siapa aku menyalahkan?
kepada aku, yang memilih mati ketika kau datang menghidupkan.

Minggu, 10 Juni 2018

tidak semua hal yang kau anggap baik
adalah kebaikan untuk orang lain

tidak semua hal yang kau anggap mudah
adalah mudah pula untuk mereka

tidak semua hal yang kau pilih
menjadi pilihan mereka

dan tidak selamanya hidupmu semudah apa yang mereka fikir
mereka terka
mereka lihat

karena kau menggunakan kakimu
sementara mereka hanya menggunakan mata
bahkan yang terdekat darimu
seakan mereka tidak pernah mau ikut berjalan berbagi langkah denganmu

karena itulah
aku pesimis
terhadap apa apa yang mereka cita kan
aku pesimis
pada kemampuanku menggapai cita nya
aku pesimis
terhadap mereka kepadaku