catat.
hari dimana pilu mengetuk pintu
lalu aku
tak membukakan
namun rupanya ia menjadi udara
merangsak masuk lewat celah celah jendela
membuat aku menghirupnya
ku hempas
hirup kembali
sampai sesak aku
mataku kelu
bergelimang dalam satu ruang semu
penuh nada-nada minor sendu
ku hentak
ia enggan pergi
bahkan semakin menjadi
hingga aku hanya bisa menangisi
bait demi bait ku tulis
menjadi pengganti percakapan malam ini
dan malam kemarin
sampai esok hari datang lagi
mungkin sampai ku lupa
mengapa aku berkelahi
dengan ego dan hati
ku menangkan kuasa diri
tanpa berfikir
mengapa kau datang lantas pergi
tanpa seucap kata pamit yang manis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar