Rabu, 20 Juni 2018

catat.

hari dimana pilu mengetuk pintu

lalu aku

tak membukakan

namun rupanya ia menjadi udara

merangsak masuk lewat celah celah jendela

membuat aku menghirupnya

ku hempas

hirup kembali

sampai sesak aku

mataku kelu

bergelimang dalam satu ruang semu

penuh nada-nada minor sendu

ku hentak

ia enggan pergi

bahkan semakin menjadi

hingga aku hanya bisa menangisi

bait demi bait ku tulis

menjadi pengganti percakapan malam ini

dan malam kemarin

sampai esok hari datang lagi

mungkin sampai ku lupa

mengapa aku berkelahi

dengan ego dan hati

ku menangkan kuasa diri

tanpa berfikir

mengapa kau datang lantas pergi

tanpa seucap kata pamit yang manis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar