Dengan ini aku melanjutkan rangkaian cerita yang pernah ku tulis lalu ku sematkan dalam diary hari ke hari. Dimana saat aku terluka, ketika aku sepi, dibalik kesendirian ini aku adalah seorang yang seringkali menangisi malam. Karena malam datang padaku membawa memori-memori tentang aku yang pernah bahagia. Tapi diakhir waktu menjelang pagi ia menghadapkan pada akhir mengapa aku lagi-lagi kehilangan kesempatan menggenggam itu semua. Aku yang merelakan malam-malam tanpa memejamkan mata. Hanya untuk menyadari betapa bodohnya diri. Berulang menjadi pribadi yang tak pernah mau mengerti. Entah kapan aku tersadar, apa alasan aku diciptakan. Entah kapan aku pahami, mengapa luka dihadirkan. Aku masih duduk disini, bersama sepi yang berkerumun menghampiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar