Senin, 21 Maret 2016

Kugantung Dihadapan

Aku agak paham rupanya dengan rasa yang beberapa waktu ini penuh mengisi cacat celah hati
Rasa yang pernah kurasa dulu, jauh sebelum hari ini
Tapi dulu.. rasa itu hanya sebatas ada. Ia tidak singgah ataupun menghuni..

Kini ku beranikan membuka pintu hati
Berharap Sang Pemberi Mawar itu datang menghampiri..

Dan benar saja..
Tidak perlu waktu yang lama
Waktu mengembalikan semua
Kenangan tentangnya waktu aku mengenalnya

Sang Pemberi Mawar itupun datang
Bukan sekadar melihat
Bahkan ia singgah kini dibatasan hati
Antara memasukinya atau aku meragukannya

Ia bukan datang dengan kesetiaan
Aku tahu itu benar
Ia bukan datang dengan kebohongan
Dan aku tahu itupun benar

Ia datang dengan sebenar-benarnya ia
Dengan hal yang tidak bisa kusebut 'baik'
Ia datang dengan kejujuran
Tentang siapa yang akan ia dustai

Sang Pemberi Mawar itu.. ya, dia.
Dia terus membawa hati ini terpeleset dengan segala ucapnya, tingkahnya..
Dia terus membawa diri ini semakin membukakan celah untuknya singgah..

Aku masih mempertimbangkan
Bukan karena ketidaksetiaannya
Bukan karena segala kelakuannya
Bukan karena segala kekurangannya

Aku hanya sedang berdiskusi dengan hati
Bagaimana memastikan diri
Agar tidak jatuh untuk sekian kali
Dalam hati yang mudah goyah untuk digali

Aku berdiri hari ini bukan mencari lagi permainan
Sesungguhnya ada harapan besar masih menggantung dihadapan
Ketika seorang laki-laki datang
Berniat tentang masadepan..

Entah itu kau, Sang Pemberi Mawar..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar