Senin, 28 Maret 2016

Sakit Hati..

Sakit hati.. membuatku tak bersahabat dengan lapar dan kantuk. Karena sakit hati, aku hanya sekedar mengenal apa itu lapar dan tidur. Menemuinya asal saja, sekedar jumpa. Aku tak lagi menjadikannya sahabat yang ku temui ketika aku lelah dan bosan. 

Sakit hati membuatku hidup berhari-hari hanya dengan membuka mata yang tak berangan. Sakit hati.. yang teramat. Merobek segala mimpi dan cita-cita. Aku sering menemui sakit hati, tapi saat itu tidak pernah sesakit kemarin. Sakit hati kemarin, membuatku hafal dan lulus melaluinya. Aku sudah hafal bagaimana ia akan datang, bagaimana ia membabi-butakan. Aku lulus serangkaian tangisan dan jeritan. 

Sakit hati kemarin.. mengajarkanku.. tentang kecewa yang datang bukan tanpa undangan. Sungguh aku sekarang paham. Aku lah yang mengundang kecewa itu. Aku lah yang memberikan ia kunci. Kapan saja ia bisa masuk tanpa mengetuk. 

Dan sekarang.. aku pula yang datang memberikan undangan pada kecewa. Lagi-lagi aku berani melakukannya. Aku tahu, sejak undangan itu ada tandanya aku harus segera bersiap untuk terluka. 
Walau aku tahu tak pernah ada obat untuk sakit hati, paling tidak aku tidak perlu panik dan menangis menghadapinya. Aku sudah hafal sebelumnya, seberapa getir rasanya. Dan sekalipun aku harus menelannya lagi, aku tidak ingin terbawa jatuh kedalamnya. 

Karena akulah Sang pembuat undangan kekecewaan itu. Dan akulah yang akan menemuinya.. kapan saja ia masuk tanpa mengetuk.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar