Senin, 03 Maret 2014

Tuhan memberi waktu aku memahami itu

Sebelumnya aku tau seberapa besar takutmu kehilangan akan kenanganmu. Aku sekedar tau itu dalam anganmu. Hingga dengan sengaja Tuhan memberi aku waktu untuk lebih memahami itu. Dengan sendiri ku melihat kenanganmu yang tersimpan rapi kau tata dalam tempat kenanganmu dengan ia, dan ia yang lain.
Aku menahan segala emosi yang tertuah saat itu. Aku menahan jatuhnya airmata dihadapanmu. Tapi semua usaha itu sia-sia. Jantungku belum siap untuk berdetak lebih kencang dari biasanya. Nafasku masih terengah tak terkendali. Ku titikan airmata bukan untuk mencari simpati atas kekecewaanku. Hanya saja aku tak mampu  membendung kecemasan hatiku saat itu. Aku tau tidak ada yang tidak sengaja bagi Tuhan. Mungkin memang ujian itu datang disaat aku tidak siap menyambutnya. Mata ini serasa perih merintih berujung pedih. Hati ini seperti terpukul lebam membiru. Membekas sedikit dicelah bahagiaku. Beberapa waktu, aku memang butuh meluapkan amarahku. Maaf jika sempat juga melukaimu. Aku memang belum bisa menjadi bahagia yang kau harapkan. Mungkin aku belum juga bisa menjadi kepuasan dalam batinmu hingga beberapa hal diluar kita menjadi obatmu. Maaf untuk kebosanan akan rasamu denganku. Aku terus belajar, bukan sekedar membaca hatimu tapi memahami itu. Aku belajar menggoreskan kembali senyum diwajahmu bagian dari kebahagiaan kita. Aku belajar menguatkan hati bersujud memohon ampun atas segala khilaf hingga Tuhan datangkan ujian padaku. Terimakasih, Tuhan masih mengizinkan aku menjadi pengingatmu. Tuhan masih izinkan aku mendampingi ketika kau menyesali. Terimakasih juga kau telah mau untuk perbaiki sedikit retak dicelah bahagiaku ini. Semoga Tuhan masih izinkan kita terus berdamping ketika khilaf atau bahagia. Semoga Tuhan beri cahaya ketika kita meredup. Semoga Tuhan mendengar setiap lirihnya doa-doa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar