Senin, 12 Mei 2014

Bukan Terbelakang, tapi Dibelakangi..

Jangan sibukkan diri dengan banyak sekali orang diluar sana, coba tengok orang terdekat. Kenapa dan bagaimana yang dekat saja tidak bisa ikut tumbuh bersama mereka yang sudah berbuah? 
Coba lihat seberapa dari berapa orang yang juga ingin menumbuhkan kembali dirinya diantara lebatnya buah kalian? Bukan kasihan, tepatnya 'tak dianggap'. Kita mulai bersama dari sama sama menanam bibit, menyiram bersama sama.. Tapi ketika seberapa sudah berbuah bahkan mereka 'menggangap dirinya' berbuah paling banyak, mereka lupa.. bukan lupa, tidak mau menengok :) 

Jangan jauh-jauh melihat orang yang begitu banyak diluar sana, coba lihat ke dalam, disudut belakang. Bukan terbelakang. Tapi dibelakangi.

Ini tidak bicara tentang saya, tetapi ketidaknyamanan yang saya lihat. Jika kalian tidak mengakui rasa itu, ya silakan. Pandangan saya bukan suatu kewajiban setiap orang. Saya bukan Tuhan.
Kalian memang satu suara, ya, kalian. Karena hanya seberapa bukan semua. Kalian memang yang 'terhebat'. Terhebat apa? Saya tidak mau menjelaskan. Biar saja yang baca menyimpulkan sendiri. Dari sudut pandang yang pembaca suka :) 

Misinya sudah berubah, juga visinya. Satu ke satu. Dua ke satu. Beberapa orang sudah saling berani memulai berbicara di 'belakang'. Kaum dibelakangi.

Nanti akan tersadar dengan sendirinya, ketika kekurangan kalian sudah tak bisa diimbangi. Dan kalian butuh kalian yang lain. Terus saja seperti itu, nantinya tidak akan menguat. Malah hancur. Dan ini sudah mulai.. bukan hampir.. tapi sudah :) 

Coba berdirilah yang TEPAT. Jangan sengaja membelakangi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar