baru saja selesai membaca sebuah tulisan yang agak panjang. mengenai perasaan di khianati Sang Penulis kepada Sang Inspirasinya. agak seram membaca inti dari panjang kata-katanya. mengenai pengkhiatan. apalagi aku kenal dengan Sang Inspirasi nya.
aku memang belum tahu betul duduk perkara apa yang membuat Sang Penulis terlihat begitu marah. membawa jemarinya pula dalam amarah. mengetik huruf demi huruf seakan memerah nyata ketika ku baca. sayangnya, aku tak bisa berbagi bicara dengan Sang Penulis itu. sejujurnya aku semakin ingin tahu. tentang sebuah kesimpulan kebenaran dari kedua diri yang beradu alasan.
sayangnya juga, perasaan keduanya sama sedang dalam amarah. yang mungkin bila tersentuh akan semakin membara.
saat inipun aku tidak membenarkan langkahku. aku menyalahkan. bukan kau, ia atau aku. aku menyalahkan tiada kata yang benar bisa dipercaya. tidak ada pembicaraan yang menuju kesepakatan kedamaian. damai dengan masalalu maupun dengan masadepan.
Sang Penulis, yang mungkin sifatnya sama sepertiku. hanya bisa mencintai tanpa bisa memutuskan apapun langkah kedepan. Sang Inspirasi yang mungkin juga sama dimata kami berdua. mencintainya.
aku bukanlah pembawa rasa lupa. untuknya dengan masalalunya. aku bukanlah jalan lain arah ia berbelok menantang pulang. bukan aku.
kami hanya saling ingin membahagiakan. ketika kalian masih bersama. dalam pengakuan seorang yang mungkin rindu ingin didekap. dalam pernyataan seseorang yang mungkin rindu disayang. ditemui. diseka setiap jatuh keringatnya. diusap kepalanya. dipeluknya ketika risau.
maaf, Sang Penulis. sepertinya, ketika kau nampak pergi. entah pergi menjauh atau pergi dengan dekapan telapak tangan yang lain. Inspirasi mu, ya ia. ia sudah melihatnya. mungkin kau tak tahu atau mungkin kau yang tak pernah mau tahu.
ia sungguh mencintaimu, sebelumnya. ia merindukanmu, setiap malam. aku tahu, itu selalu. sayang, tak pernah ada diri yang bisa ia jumpai ketika ia rindu. tak pernah ada belai hangat tangan ketika ia dingin dalam siang.
ia pernah berharap kau selalu ada. ia pernah berharap kau membawa ia ke jalanmu pulang. kedepan pintu jalan menuju masadepan. ia berharap kau menuntun membawa ia bersalam pada Sang Penanggungjawabmu. dan lagi-lagi kau mungkin gagal memahami itu. mungkin kesalahan terakhirmu, kau tak merenggut tangannya erat ketika ia berpamit pergi. mungkin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar