Ketika itu aku hanya tidak sengaja berdekatan. Karena satu kebiasaan yang ku suka. Awalnya hanya biasa, sangat biasa. Bahkan tak pernah terpikir akan masuk kedalam rasa. Saat semua lingkup waktu itu berlalu, aku masih berjalan dengan aku. Ia pun ntah bagaimana. Karena memang bukan urusanku.
Berbagai waktu terlewati hingga cengkraman tangan berarti. Satu kali, dua kali ketika aku terlelap. Masih terasa semu karena aku tak benar benar sadar saat itu. Aku tetap berusaha diam, tak bertanya, tidak juga mencari tahu.
Hingga kali kesekian terjadi lagi genggaman itu, aku coba membuka mata dan ia menatap seakan berbicara dengan pernyataannya yang aku tak berusaha membalasnya.
Esok berlalu hingga berhari, terasa semakin mengganggu. Sedikit rasa yang justru terus menelusup menghadang kinerja keras kesendirian ini.
Aku mulai sadar akan adanya rasa ini. Kekhawatiran yang membuat semakin sensitifnya hasrat hati.
Aku mendekat, aku coba memerhatikan. Ku coba memahami.
Ya, aku dan dia bertemu pada satu titik kedekatan bersama. Berjalan tanpa ada alasan saling mengganggu. Hanya saja bersama saling memberi kenyamanan diri. Berusaha saling menjaga, memahami keinginan hati.
Sudah dekat, bahkan sangat dekat. Tapi semua seperti hilang ketika ia temukan harta yang ia tunggu yang selama ini sempat menghilang. Aku tak pernah tahu, tentu karena tak ada mulut yang berbicara.
Satu waktu aku mengetahuinya. Membuat cukup goresan kecil yang perih. Tapi aku terus belajar, belajar memahami siapa aku siapa ia dan SIAPA KITA?
Ini bukan lagi urusanku, urusanku hanyalah rasaku. Rasa lain diluar itu bukanlah tanggungjawab hatiku.
Aku memaafkan, bahkan aku ketika kau banggakan hartamu didepan mataku.
Tak ku coba melihat, tapi aku mendengar tiap pujianmu terhadapnya. Memang luka, tapi aku sudah siapkan kesembuhannya jauh sebelum ini.
Berselang hingga aku merasa ia justru menjauh. Aku yang tetap biasa tanpa merasa ada yang perlu disalahkan. Tapi ia seakan enggan bertatap bahkan mengucap kata kepadaku. Biarlah, urusannya dengan kemauannya.
Tak pernah ada alasan pergi, membuat perhatian ini kembali ke titik fokus yang kemarin. Aku memerhatikanmu dari sudut yang aku suka. Sebelah sini, yang tak perlu kau tengok keberadaannnya.
Mungkin kondisi yang lagi lagi menjadi momen yang pas akan kenyamananku dan ia. Berlalu seakan biasa. Ia kembali seakan punya rasa. Ya, aku tak pernah ada alasan pergi.
Kembali kubiarkan ia memanggil, ku biarkan ia datang lagi. Dan jemari tak pernah bisa menolak ketika ia rapat digenggam.
Aku bukan terlalu berani. Tapi aku hanya berusaha ada, ketika ia sendiri, ketika ia sepi, biarlah ku temani.
Suatu saat ia temukan lagi kebahagiaannya, biarkan aku tetap memerhatikan, dari sudut yang aku suka..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar