Ketika aku sedih, gundah, kadang aku memilih jalanan untuk ku telusuri dingin dan keramaiannya. Karena udara mampu menghapus airmata kesedihan tanpa kau menyekanya.
Aku memilih diam bersama keheningan terbawa angin dalam seluruh daya kuhabiskan kepiluan hati. Aku bisa berfikir, namun kadang hati butuh waktu untuk tertunduk sedih.
Bukan aku yg pura-pura tak punya telinga, bukan juga pura-pura tak punya suara. Tapi aku ingin diam menuruti apa yg jadi keinginan hati. Aku dengar, aku paham. Sudah ku tata setelah ini dalam kepalaku..
Aku hanya butuh beberapa saat untuk kuhabiskan airmataku sebelum ku kuatkan diriku. Aku hanya menjalankan arus yg ku buat sendiri untuk ku hadapi.
Aku hanya butuh beberapa saat untuk kuhabiskan airmataku sebelum ku kuatkan diriku. Aku hanya menjalankan arus yg ku buat sendiri untuk ku hadapi.
Mungkin aku tak terlalu kuat untuk tegar. Mungkin ketegaran belum ku temui celah sisi lembutnya untuk ku pelajari.
Ketika aku sedih, aku terluka sedikit terhempas aku hanya ingin diam. Coba mengatur nafas hati yg terengah-engah.
Batu merah dalam tubuh ini belum miliki saluran yg mengalir langsung ke dalam kepala. Ia butuh untuk tergenang sejenak, berupaya untuk bertenaga mengirimnya ke kepala.
Jadi, jika satu saat aku terdiam, percayalah aku sedang memanajemen kesiapan diri untuk hal yg ku hadapi setelahnya.
Aku tidak ingin menganggap diri ini seperti apa. Karena ku ingat katamu, "bukan kamu yg menilai dirimu baik atau ngga, tapi aku yg akan menilai kamu baik atau ngga buat aku kedepannya. Dan aku mau kamu jadi yg baik untuk aku"
Kau adalah bagian dari suara yg bisa menegaskan tololnya keegoisanku. Kau bukan memerintahku. Tapi kau berusaha menggiring fikiranku ke arah yg lebih baik.
Aku tau bukan kau laki-laki yg akan memanjakanku saat aku sedih. Tapi kau yg selalu memiliki sisi tegas ketika aku terlalu pura-pura lemah.
Aku selalu ingin berkata bahwa aku JAGOAN. Bukan untuk ku sombongkan, tapi untuk jadi pengingatku ketika aku terlalu manja pada lemahnya ego ku.
Percayalah, aku selalu mendengarmu.
Percayalah, sesungguhnya aku memahamimu.
Percayalah, aku menanti setiap kata-kata tegasmu setelah ini.
Dan percayalah, aku menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar